1. Pendahuluan
Banyak ekonom yang meyakini
bahwa kawasan ASEAN di beberapa tahun mendatang akan menjadi center of development. Keyakinan ini
cukup beralasan karena pertumbuhan ekonomi di kawasan ini sangat menjanjikan
dan relative tahan dengan kondisi krisis yang melanda kawasan eropa dan afrika.
Beberapa kelebihan yang paling menonjol dari kawasan ini adalah ketersediaan
sumber daya yang melimpah.
2. Teori Pertumbuhan
Pertumbuhan ekonomi adalah
proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan
nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi
pertumbuhan outputriil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah bahwa
pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada kenaikan output perkapita. Pertumbuhan
ekonomi menggambarkan kenaikan taraf hidup diukur dengan output riil per orang.
Dalam zaman ahli ekonomi klasik,
seperti Adam Smith dalam buku karangannya yang berjudul An Inguiry into the
Nature and Causes of the Wealt Nations, menganalisis sebab berlakunya
pertumbuhan ekonomidan factor yang menentukan pertumbuhan ekonomi. Setelah Adam
Smith, beberapa ahli ekonomi klasik lainnya seperti Ricardo, Malthus, Stuart
Mill, juga membahas masalah perkembangan ekonomi .
·
Teori Inovasi Schum Peter Pada teori ini
menekankan pada faktor inovasi enterpreneur sebagai motor penggerak pertumbuhan
ekonomi kapitalilstik. Dinamika persaingan akan mendorong hal ini.
·
Model Pertumbuhan Harrot-Domar Teori ini
menekankan konsep tingkat pertumbuhan natural.Selain kuantitas faktor produksi
tenaga kerja diperhitungkan juga kenaikan efisiensi karena pendidikan dan
latihan.Model ini dapat menentukan berapa besarnya tabungan atau investasi yang
diperlukan untuk memelihar tingkat laju pertumbuhan ekonomi natural yaitu angka
laju pertumbuhan ekonomi natural dikalikan dengan nisbah kapital-output.
·
Model Input-Output Leontief. Model ini merupakan
gambaran menyeluruh tentang aliran dan hubungan antarindustri. Dengan
menggunakan model tabulasi maka perencanaan pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan
secara konsisten karena dapat diketahui gambaran hubungan aliran input-output
antarindustri. Hubungan tersebut diukur dengan koefisien input-output dan dalam
jangka pendek/menengah dianggap konstan tak berubah .
·
Model Pertumbuhan Lewis Model ini merupakan
model yang khusus menerangkan kasus negara sedang berkembang banyak (padat) penduduknya.Tekanannya
adalah pada perpindahan kelebihan penduduk disektor pertanian ke sektor modern
kapitalis industri yang dibiayai dari surplus keuntungan. E.Model Pertumbuhan
Ekonomi Rostow Model ini menekankan tinjauannya pada sejarah tahp-tahap
pertumbuhan ekonomi serta ciri dan syarat masing-masing. Tahap-tahap tersebut
adalah tahap masyarakat tradisional, tahap prasyarat lepas landas, tahap lepas
landas, ahap gerakan ke arah kedewasaan, dan akhirnya tahap konsimsi tinggi
Trend
pokok-pokok. dari pertumbuhan ekonomi.
1.
Penduduk berkembang tetapi pada tingkat yang
lebih rendah dibanding pertambahan persediaan modal ~ intensifikasi modal.
2.
Tingkat upah riil naik dengan kuat.
3.
Porsi upah dan gaji terhadap total pengembalian
pada barang modal dalam jangka panjang bergerak sedikit.
4.
Tingkat pengembalian modal (bunga riil) tidak
jatuh.
5.
Terdapat kenaikan dalam rasio modal per output.
6.
Rasio
tabungan terhadap total output nasional stabil.
7.
Peningkatan produk nasional yang stabil
Faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan
1.
Tanah dan kekayaan alam.
2.
Jumlah dan mutu penduduk serta tenaga kerja
3.
Barang modal dan tingkat teknologi.
4.
Sistem sosial dan sikap masyarakat.
5.
Luas pasar
3. Paradoksi Pertumbuhan Perekonomian
Indonesia 2012
Badan Pusat Statistik (BPS)
memperkirakan pendapatan per kapita Indonesia akhir tahun ini mencapai US$
3.500-3.600, lebih tinggi dari tahun lalu US$ 3.005. Perkiraan itu didasarkan
pada kinerja pertumbuhan ekonomi yang konsisten saat ini. Pada triwulan
II-2011,pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 2,9% dibandingkan triwulan
sebelumnya, sedangkan dibandingkan triwulan sama 2010 tumbuh 6,5%.
Menurut Kepala BPS Rusman
Heriawan, secara kumulatif, produk domestik bruto (PDB) nominal semester I-2011
mencapai Rp 3.549 triliun,lebih tinggi dari semester I-2010 senilai Rp 3.084
triliun atau
dibanding semester II-2010 sebesar Rp 3.339
triliun.“Kalau perkembangan pada semester II tahun ini kira-kira sama dengan
semester II tahun lalu, total PDB tahun ini bisa mencapai Rp 7.400 triliun,”
kata Rusman di Jakarta, Jumat (5/8).Dia menjelaskan, dengan perkiraan PDB
nominal 2011 sebesar Rp 7.400 triliun atau setara pertumbuhan ekonomi 6,7% dan
memperhitungkan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 241 juta jiwa dengan
rata-rata kurs Rp 8.600 per dolar AS, pendapatan per kapita Indonesia hingga
akhir tahun ini mencapai US$ 3.500-US$ 3.600. “Angka itu lebih tinggi dari
tahun lalu US$ 3.004,9,” ujar Rusman. Pemerintah Optimistis Secara terpisah,
Menko Perekonomian Hatta Rajasa optimistis pertumbuhan ekonomi tahun ini
minimal mencapai 6,5%. “Dengan pertumbuhan yang stabil sejak awal tahun dan
pencapaian pertumbuhan kuartal II sebesar 6,5%, saya yakin perekonomian nasional tahun ini setidaknya
mencapai 6,5%, atau di atas target APBN sebesar 6,4%,” tutur Hatta.
Dia mengungkapkan, saat ini
terjadi sedikit guncangan di pasar modal global. Di sisi lain, sejumlah negara
mengalami penurunan pertumbuhan selama kuartal II. Contohnya Tiongkok dan
Singapura yang ekonominya tumbuh pesat pada kuartal I, tapi pada kuartal II
turun tajam. “Tapi Indonesia tetap mengalami pertumbuhan stabil. Konsumsi masyarakat
tetap terjaga,inflasi juga cukup baik,” ujarnya.Hatta juga optimistis nilai
ekspor bisa menembus US$ 200 miliar tahun ini. Reali sasi nilai ekspor yang
melebihi impor menunjukkan surplus pada neraca perdagangan yang tetap
Akhir 2011, Pendapatan Per Kapita
US$ 3.600 “Ekspor kita jauh lebih tinggi pertumbuhannya dibanding impor,” tutur
dia. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, menurut Hatta Rajasa,
pemerintah harus mampu mengatasi tiga titik hambatan. Pertama, memperbaiki
perencanaan proyek yang terkait belanja modal dan infrastruktur. Kedua,
memperbaiki proses pelelangan. Ketiga, memperbaiki proses penyelesaian atau
pembayaran. “Ini sebetulnya sudah diatur Perpres No 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Tapi, menurut saya, Perpres ini harus
terus dievaluasi. Kalau menghambat, tentu harus diubah. Pengadaan barang dan
jasa pemerintah harus simpel, cepat, transparan, dan akuntabel, bukan njelimet,
berbelit-belit, malah memperlambat. Itu repot,” tandas Hatta. Minim Tenaga Kerja
Menanggapi hal itu, ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latief
Adam mengungkapkan, laju pertumbuhan
ekonomi masih didominasi sektor non-tradeable yang terbilang minim menyerap
tenaga kerja.
“Kontribusi sektor pengolahan dan
pertanian masih 39%. Padahal, idealnya, kedua sektor tersebut harus dominan
untuk dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas,” ujarnya. Menurut
Latief, seharusnya pertumbuhan ekonomi disokong sektor-sektor yang tradeable,
seperti pertanian, industri, dan pertambangan. Pasalnya, ketiga sektor tersebut
paling besar menyerap tenaga kerja. Dia menambahkan, dengan
pencapaianpertumbuhan ekonomi semester I-2011 sebesar 6,5% dibanding semester I
tahun silam, Indonesia sepanjang tahun ini mampu mencatatkan pertumbuhan
ekonomi di atas 6,7%. Namun, untuk
dapat mencapainya, pemerintah harus mampu mengendalikan inflasi.“Pertumbuhan
ekonomi sebagian besar didorong konsumsi masyarakat. Jika inflasi tinggi, daya
beli masyarakat menurun dan konsumsi masyarakat akan berkurang. Ini tentu
berdampak pada pertumbuhan ekonomi,” papardia.
Selain disokong tingkat
konsumsi yang tinggi, menurut Latief,
tren investasi diperkirakanakan semakin meningkat pada kuartal III. .Demikian pula
belanja pemerintah. “Yang akan menjadi hambatan justru ekspor,karena beberapa
negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat dan Jepang menunjukkan penurunan
performa,”ucap dia. Dia mengatakan, meskipun pada akhir tahun diprediksi
terjadi perlambatan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bakal
meningkat. “Eksposur kita dengan AS dan Eropa tidak setinggi Singapura atau
negara Asean yang lain. Yang terpengaruh paling-paling ekspor,”ujarnya. Latief
menambahkan, terpuruknya ekonomi AS dan Eropa justru akan mendatangkan
keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Soalnya, para investor akan memilih
negara tujuan lain untuk berinvestasi, salah satunya Indonesia. “Capital inflow
akan semakin deras. Tinggal bagaimana caranya mentransmisikan capital inflow ke
sektor riil,” katanya. Konsumsi Rumah Tangga Kepala BPS Rusman Heriawan
mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2011 mencapai
2,9% dibandingkan triwulan sebelumnya (quarter to quarter/q-to-q). Sedangkan
dibandingkan triwulan yang sama 2010 (year on year/yoy) tumbuh 6,5%. Konsumsi
rumahtangga memberikan kontribusi paling besar. Sebaliknya, belanja pemerintah
berkontribusi paling rendah. Secara spasial, menurut dia, struktur
perekonomian Indonesia pada triwulan II-2011 masih
didominasi kelompok provinsi di Pulau Jawa dengan kontribusi terhadap PDB
sebesar 57,7%, diikuti Sumatera 23,5%, Kalimantan 9,5%, Sulawesi 4,7%, dan
sisanya 4,6% dikontribusi pulau-pulau lainnya. Rusman mengatakan, besaran PDB
atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2011 mencapai Rp 1.811,1 triliun.
Adapun PDB atas dasar harga
konstan 2000 pada triwulan yang sama sebesar Rp 611,1 triliun. Sektor yang
mengalami pertumbuhan tertinggi (q-to-q) adalah perdagangan, hotel, dan
restoran 4,8%, konstruksi 4,2%, serta sector listrik, gas, dan air bersih
4%.Secara tahunan (yoy), kata dia, sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh
10,7%, sektor perdagangan, hotel, dan restoran 9,6%, dan sektor konstruksi
7,4%. Struktur PDB triwulan II-2011 masih didominasi sektor industri
pengolahan, sektor pertanian, serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran
dengan kontribusi masingmasing 24,3%, 15,4%, dan 13,9%. Rusman menjelaskan,
pertumbuhan PDB triwulan II-2011 dibandingkan triwulan I-2011 (q-to-q) yang
mencapai 2,9% ditopang kenaikan pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 1,3%.
Sedangkan pengeluaran konsumsi pemerintah naik 26%, pembentukan modal tetap
bruto (PMTB) naik 3,9%, ekspor barang dan jasa tumbuh 7,4%, serta impor barang
dan jasa meningkat 6%.
Dia menambahkan, pertumbuhan ekonomi triwulan
II-2011 yang mencapai 6,5% dibandingkan triwulan II- 2010 (yoy) didukung
pengeluaran konsumsi rumahtangga yang meningkat 4,6%. Pendukung lainnya adalah
pengeluaran konsumsi pemerintah 4,5%, PMTB 9,2%, ekspor barang dan jasa 17,4%,
serta impor barang dan jasa 16%. Adapun pertumbuhan ekonomi semester I-2011
terhadap semester I- 2010 yang mencapai 6,5% didukung peningkatan konsumsi
rumahtangga 4,5%, konsumsi pemerintah 3,7%, PMTB 8,3%, serta ekspor dan impor masing-masing
14,9% dan 15,8%. Rusman mengemukakan, struktur PDB penggunaan triwulan II-2011
didominasi komponen pengeluaran rumahtangga sebesar 54,3%. Komponen PMTB dan
pengeluaran konsumsi pemerintah memberikan kontribusi masing-masing 31,6% dan
8,3%. Sedangkanekspor neto berkontribusi 1,9%
Tidak ada komentar:
Posting Komentar