"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu
mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (Qs. Ali Imran : 102)
dalam dosa (H.R. At-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Islam sebagai agama yang Rahmatan lil ‘alamin
mengajarkan kepada kita bahwa pada hakikatnya, perbedaan manusia tidak berada
pada kedudukan, jabatan, pangkat, kekayaan dan lainnya. Manusia dibedakan
dengan kadar dan bobot nilai mereka di mata Allah. Perbedaan antara manusia
dengan manusia yang lain di dalam perspektif Islam terletak pada sejauh mana
manusia tersebut mampu mengoptimalkan kadar ruhaninya untuk mendekat pada
Allah. Perbedaan manusia dan kemuliaan manusia ditentukan oleh nilai dan kadar
taqwanya yang bergolak dalam dadanya. (QS. Al-Hujurat: 13) Dalam sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudhari disebutkan, Hendaknya kamu bertaqwa
sebab ia adalah kumpulan segala kebaikan, dan hendaknya engkau berjihad karena
ia sikap kependetaan seorang muslim, dan hendaknya engkau selalu berdzikir
menyebut nama Allah karena dia cahaya bagimu (HR. Ibnu Dharis dari Abu Said
Al-Khudhari)
Definisi
Taqwa
Para ulama telah berusaha memberikan definisi taqwa
yang mudah dicerna. Dan banyak sekali definisi taqwa dengan berbagai
perspektif, dalam tulisan ini saya mengutip beberapa definisi taqwa dari
beberapa ulama. Diantaranya adalah Hasan Al-Bashri, beliau mengatakan bahwa
taqwa adalah takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah, dan menunaikan
apa-apa yang diwajibkan oleh Allah. Taqwa juga berarti kewaspadaan, menjaga
benar-benar perintah dan menjauhi larangan.
Sepintas, definisi taqwa tersebut cukup sederhana,
namun dalam konteks amal, sangat memerlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk
meraihnya. Seorang sahabat Rasul SAW, Ubay bin Ka’ab pernah memberikan gambaran
yang jelas tentang hakikat taqwa. Pada saat itu, Umar bin Khaththab bertanya
kepada Ubay tentang apa itu taqwa. Ubay balik bertanya : “Apakah Anda tidak
pernah berjalan di tempat yang penuh duri?” Umar menjawab : “Ya.” Ubay bertanya
lagi : “Lalu Anda berbuat apa?” Umar menjawab: “Saya sangat hati-hati dan
bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.” Ubay menimpali : “Itulah
(contoh) taqwa.”
Definisi tentang taqwa menurut Hasan Al-Bashri
(yang juga diikuti dan disepakati oleh para ulama) di atas, memberikan
kejelasan bahwa duri yang menghadang para muttaqin adalah apa-apa yang
diharamkan atau dilarang oleh Allah SWT. Oleh karena itu, kita seharusnya
berjalan secara hati-hati, waspada, dan takut terhadap semua larangan Allah.
Istilah taqwa sepertinya memang sudah mulai kehilangan
makna. Padahal, bagi kaum muslimin, paling sedikit satu kali dalam seminggu,
dalam khutbah Jum’at, khatib mengingatkan kepada jama’ah untuk senantiasa
meningkatkan iman dan taqwa kita. Dalam Al Qur’anul Karim, banyak ayat yang
memerintahkan kita untuk bertaqwa. Allah SWT menjanjikan bahwa sesungguhnya
manusia yang paling mulia di sisi-Nya adalah manusia yang paling bertaqwa.
Taqwa adalah bentuk peribadatan kepada Allah
seakan-akan kita melihat-Nya dan jika kita tidak melihat-Nya maka ketahuilah bahwa
Dia melihat kita. Taqwa adalah tidak terus menerus melakukan maksiat dan tidak
terpedaya dengan ketaatan. Taqwa kepada Allah adalah jika dalam pandangan Allah
seseorang selalu berada dalam keadaan tidak melakukan apa yang dilarang-Nya,
dan Dia melihatnya selalu melakukan kebaikan. Menurut Sayyid Quth dalam
tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan,
rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri kehidupan
Sedangkan Menurut Bahtiar Ahmad taqwa ada beberapa
definisi tentang Taqwa, yaitu:
1. Taqwa
berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara
2. Taqwa
itu berarti takut, tapi tidak persis seperti takut. Katanya sudah ada kata lain
di Al Qur’an untuk kata takut, yaitu khasyiya dan khawf
3. Taqwa
itu mengetahui dengan akal, memahami dengan hati dan melakukan dengan perbuatan
4. Ada
yang membagi dalam 2 Definisi Taqwa = a. Hati-hati b. Meninggalkan yang tidak
berguna
5. Taqwa
: merupakan kosekuensi logis dari keimanan yang kokoh yang dipupuk dengan
murrukobatullah, merasa takut terhadap murka dan azab-Nya dan selalu berharap
atas limpahan karuni dan magfir-Nya.
6. Taqwa
: hendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam larangan-larangan-Nya dan
tidak kehilangan kamu didalam perintah-perintah-Nya.
7. Ada
yang bilang ; Taqwa terambil dari akar kata yang berarti menghindar. Perintah
untuk bertaqwa berarti perintah untuk menghindarkan siksa dan ancaman Allah.
8. Taqwa
adalah sikap abstrak yang tertanam dalam hati setiap muslim, yang aplikasinya
berhubungan dengan syariat agama dan kehidupan sosial. Seorang muslim yang
bertaqwa pasti selalu berusaha melaksanakan perintah Tuhannya dan menjauhi
segala laranganNya dalam kehidupan ini
Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada
Sayyidina Ali bin Abi Thalib K.W. tentang apa itu taqwa. Beliau menjelaskan
bahwa taqwa itu adalah:
1. Takut
(kepada Allah) yang diiringi rasa cinta, bukan takut karena adanya neraka.
2. Beramal
dengan Alquran yaitu bagaimana Alquran menjadi pedoman dalam kehidupan
sehari-hari seorang manusia
3. Ridho
dengan yang sedikit, ini berkaitan dengan rizki. Bila mendapat rizki yang
banyak, siapa pun akan ridho tapi bagaimana bila sedikit? Yang perlu disadari
adalah bahwa rizki tidak semata-mata yang berwujud uang atau materi.
4. Orang
yg menyiapkan diri untuk "perjalanan panjang", maksudnya adalah hidup
sesudah mati
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menyatakan bahwa orang
bertaqwa adalah orang yang telah menjadikan tabir penjaga antara dirinya dan
neraka. Pernyataan ulama besar salaf ini memiliki kandungan yang lebih spesifik
lagi. Orang bertaqwa berarti dia telah mengetahui hal-hal apa saja yang
menyebabkan Allah murka dan menghukumnya di neraka. Selain itu, ia juga harus
mengetahui batasan-batasan (aturan-aturan) Allah yang diturunkan kepada
Rasul-Nya.
Di sinilah peran penting dari perintah Rasul SAW
untuk menuntut ilmu dari mulai lahir hingga liang lahat. Ketaqwaan sangat
memerlukan landasan ilmu yang benar dan lurus, sesuai dengan petunjuk Allah dan
Rasul-Nya. Allah SWT sangat mencela kepada orang-orang yang tidak memiliki ilmu
pengetahuan tentang batasan-batasan yang telah disampaikan kepada Rasul-Nya.
Hal ini sejalan pula dengan firman Allah bahwa Alah akan meninggikan
orang-orang berilmu beberapa derajat.
Dalam perjalanan meraih derajat taqwa diperlukan
perjuangan yang sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu, bisikan Setan yang
sangat halus dan sering membuat manusia terpedaya. Sikap istiqamah dalam
memegang ajaran Allah sangat diperlukan guna menghantarkan kita menuju derajat
taqwa.
Syekh Abdul Qadir pernah memberikan nasihat :
”Jadilah kamu bila bersama Allah tidak berhubungan dengan makhluk dan bila
bersama dengan makhluk tidak bersama nafsu. Siapa saja yang tidak sedemikian
rupa, maka tentu ia akan selalu diliputi syaitan dan segala urusannya melewati
batas.”
Seseorang yang bertaqwa akan meninggalkan
dosa-dosa, baik kecil maupun besar. Baginya dosa kecil dan dosa besar adalah
sama-sama dosa. Ia tidak akan memandang remeh dosa-dosa kecil, karena segala
sesuatu diawali oleh yang kecil-keci. Dosa yang kecil, jika dilakukan terus-menerus
akan berubah menjadi dosa besar.
Tidak hanya hal-hal yang menyebabkan dosa saja yang
ditinggalkan oleh orang-orang bertaqwa, hal-hal yang tidak menyebabkan dosa
pun, jika itu meragukan, maka ditinggalkan pula dengan penuh keikhlasan.
Aa’ Gym (KH. Abdullah Gymnastiar) sering kali
mengingatkan kita dalam berbagai kesempatan, bahwa taqwa bisa dilakukan apabila
ada kekuatan iman pada diri seorang muslim. Ada beberapa cara yang bisa
dilakukan untuk berusaha menjadi orang yang muttaqin, yaitu diawali dengan cara
3 pendekatan dasar, pertama, Mulai dari diri kita, Kedua, Mulai dari yang
kecil-kecil, beliau mendefinisikannya bahwa seseorang melakukan dosa biasanya
di mulai dari perkara/dosa yang kecil, terbiasa dengan dosa kecil untuk
selanjutnya menjadi melakukan dosa besar. Secara alamiah manusia cenderung
ingin mencoba sesuatu, dan kemudian terbiasa, pun dengan dosa. Oleh sebab itu,
segala sesuatu yang menyebabkannya harus diminimalisir dan dimuali dari yang
kecil-kecil. Ketiga, mulai saat ini.
Buah Taqwa
Manusia taqwa akan mendapatkan mahabbah Allah
(Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, (QS. At-Taubah: 4),
Allah akan selalu bersama langkah dan pikirnya (Sesungguhnya Allah selalu
bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (QS.
An-Nahl; 128), mendapat manfaat dari apa yang dibaca di dalam Al-Qur`an (QS.
Al-Baqarah; 2), lepas dari gangguan syetan –“sesungguhnya orang-orang yang
bertaqwa apabila ditimpa was-was dari syetan, mereka ingat kepada Allah maka seketika
itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya” (QS. Al-A’raf: 35), diterima
amal-amalnya (QS. Al-Maidah: 27), mendapatkan kemudahan setelah kesulitan dan
mendapat jalan keluar setelah kesempitan (QS. Ath-Thalaq: 2 dan 4).
Manusia taqwa akan memiliki firasat yang tajam,
mata hati yang peka dan sensitif sehingga dengan mudah mampu membedakan mana
yang hak dan mana pula yang batil. (QS. Al-Anfaal : 29). Mata hati manusia
taqwa adalah mata hati yang bersih yang tidak terkotori dosa-dosa dan maksiat, karenanya
akan gampang baginya untuk masuk surga yang memiliki luas seluas langit dan
bumi yang Allah peruntukkan untuk orang-orang yang bertaqwa (QS. Ali Imran: 133
dan Al-Baqarah: 211).
Taqwa yang terhimpun dalam individu-individu ini
akan melahirkan keamanan dalam masyarakat. Masyarakat akan merasa tenteram
dengan kehadiran mereka. Sebaliknya pupusnya taqwa akan menimbulkan sisi
negatif yang demikian parah dan melelahkan. Umat ini akan lemah dan selalu
dilemahkan, akan menyebar penyakit moral dan penyakit hati. Kezhaliman akan
merajalela, adzab akan banyak menimpa. Masyarakat akan terampas rasa aman dan
kenikmatan hidupnya. Masyarakat akan terenggut keadilannya, masyarakat akan
hilang hak-haknya.
Semakin taqwa seseorang -baik dalam tataran
individu, sosial, politik, budaya, ekonomi- maka akan lahir pula keamanan dan
ketenteraman, akan semakin marak keadilan, akan semakin menyebar kedamaian.
Taqwa akan melahirkan individu dan masyarakat yang memiliki kepekaaan Ilahi
yang memantulkan sifat-sifat Rabbani dan insani pada dirinya.
Akankah kita seperti hamba Allah lainnya menghadap
kepadaNya dengan kebanggan dan tingkat taqwa setinggi-tinggi untuk menemui Dzat
Yang Maha Agung Allah SWT. Smoga kita termasuk ke dalam golongan orang beriman
dan mendapat SyafaatNya di hari Pembalasan. Amin
Teori
Kepemimpinan
Kepemimpinan atau Leadership mempunyai arti yang
berbeda-beda tergantung pada sudut pandang atau perspektif-perspektif dari para
peneliti yang bersangkutan, misalnya dari perspektif individual dan aspek dari fenomena
yang paling menarik perhatian mereka. Stogdill (1974: 259) menyimpulkan bahwa
terdapat hampir sama banyaknya definisi tentang kepemimpinan dengan jumlah
orang yang telah mencoba mendefinisikannya. Lebih lanjut, Stogdill (1974: 7-17)
menyatakan bahwa kepemimpinan sebagai konsep manajemen dapat dirumuskan dalam
berbagai macam definisi, tergantung dari mana titik tolak pemikirannya.
Misalnya, dengan mengutip pendapat beberapa ahli, Paul Hersey dan Kenneth H
Blanchard (1977: 83-84) mengemukakan beberapa definisi, antara lain:
1. Kepemimpinan
adalah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh
kemauan untuk tujuan kelompok (George P Terry)
2. Kepemimpinan
adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum
(H.Koontz dan C. O'Donnell)
3. Kepemimpinan
sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan
melalui proses komunikasi ke arah tercapainya sesuatu tujuan (R. Tannenbaum,
Irving R, F. Massarik)
Sedangkan Yukl (1996: 2), mengutip beberapa
pendapat tentang definisi kepemimpinan antara lain:
a.
Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit
demi sedikit pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap
pengarahan-pengarahan rutin organisasi (Katz dan Kahn)
b.
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi
aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan
(Rauch dan Behling)
c.
Kepemimpinan adalah proses memberi arti terhadap
usaha kolektif yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang
diinginkan untuk mencapai sasaran (Jacobs dan Jacques)
Menurut Wahjosumidjo (1984: 26) butir-butir
pengertian dari berbagai definisi kepemimpinan, pada hakekatnya memberikan
makna :
a.
Kepemimpinan adalah sesuatu yang melekat pada
diri seorang pemimpin yang berupa sifat-sifat tertentu seperti kepribadian,
kemampuan, dan kesanggupan.
b.
Kepemimpinan adalah serangkaian kegiatan
pemimpin yang tidak dapat dipisahkan dengan kedudukan serta gaya atau perilaku
pemimpin itu sendiri
c.
Kepemimpinan adalah proses antar hubungan atau
interaksi antara pemimpin, bawahan dan situasi.
Dari berbagai definisi yang ada, maka dapat
dikatakan bahwa Kepemimpinan adalah
a.
Seni untuk menciptakan kesesuaian paham
b.
Bentuk persuasi dan inspirasi
c.
Kepribadian yang mempunyai pengaruh
d.
Tindakan dan perilaku
e.
Titik sentral proses kegiatan kelompok
f.
Hubungan kekuatan/kekuasaan
g.
Sarana pencapaian tujuan
h.
Hasil dari interaksi
i.
Peranan yang dipolakan
j.
Inisiasi struktur
Berbagai pandangan atau pendapat mengenai batasan
atau definisi kepemimpinan di atas, memberikan gambaran bahwa kepemimpinan
dilihat dari sudut pendekatan apapun mempunyai sifat universal dan merupakan
suatu gejala sosial.
Menurut kaidah, para pemimpin atau manajer adalah
manusia-manusia super lebih daripada yang lain, kuat, gigih, dan tahu segala sesuatu
(White, Hudgson & Crainer, 1997). Para pemimpin juga merupakan
manusia-manusia yang jumlahnya sedikit, namun perannya dalam organisasi
merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai.
Berangkat dari ide-ide pemikiran, visi, misi para pemimpin ditentukan arah
perjalanan suatu organisasi. Walaupun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan
dari tingkat kinerja organisasi, akan tetapi kenyataan membuktikan tanpa
kehadiran pemimpin, suatu organisasi akan bersifat statis dan cenderung berjalan
tanpa arah.
Dalam sejarah peradaban manusia, gerak hidup dan
dinamika organisasi sedikit banyak tergantung pada sekelompok kecil manusia
penyelenggara organisasi. Bahkan dapat dikatakan kemajuan umat manusia
datangnya dari sejumlah kecil orang-orang “istimewa” yang tampil kedepan.
Orang-orang ini adalah perintis, pelopor, ahli-ahli pikir, pencipta dan ahli
organisasi. Sekelompok orang-orang istimewa inilah yang disebut pemimpin. Oleh
karenanya kepemimpinan seorang merupakan kunci dari manajemen. Para pemimpin
dalam menjalankan tugasnya tidak hanya bertanggungjawab kepada atasannya,
pemilik, dan tercapainya tujuan organisasi, mereka juga bertanggungjawab
terhadap masalah-masalah internal organisasi termasuk didalamnya tanggungjawab
terhadap pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia. Secara eksternal, para
pemimpin memiliki tanggungjawab sosial kemasyarakatan atau akuntabilitas
publik.
Dari sisi teori kepemimpinan, pada dasarnya
teori-teori kepemimpinan mencoba menerangkan dua hal yaitu, faktor-faktor yang
terlibat dalam pemunculan kepemimpinan dan sifat dasar dari kepemimpinan.
Penelitian tentang dua masalah ini lebih memuaskan daripada teorinya itu
sendiri. Namun bagaimanapun teori-teori kepemimpinan cukup menarik, karena
teori banyak membantu dalam mendefinisikan dan menentukan masalah-masalah
penelitian. Dari penelusuran literatur tentang kepemimpinan, teori kepemimpinan
banyak dipengaruhi oleh penelitian Galton (1879) tentang latar belakang dari
orang-orang terkemuka yang mencoba menerangkan kepemimpinan berdasarkan
warisan. Beberapa penelitian lanjutan, mengemukakan individu-individu dalam
setiap masyarakat memiliki tingkatan yang berbeda dalam inteligensi, energi,
dan kekuatan moral serta mereka selalu dipimpin oleh individu yang benar-benar superior.
Perkembangan selanjutnya, beberapa ahli teori
mengembangkan pandangan kemunculan pemimpin besar adalah hasil dari waktu,
tempat dan situasi sesaat. Dua hipotesis yang dikembangkan tentang
kepemimpinan, yaitu ; (1) kualitas pemimpin dan kepemimpinan yang tergantung
kepada situasi kelompok, dan (2), kualitas individu dalam mengatasi situasi
sesaat merupakan hasil kepemimpinan terdahulu yang berhasil dalam mengatasi
situasi yang sama (Hocking & Boggardus, 1994).
Dua teori yaitu Teori Orang-Orang Terkemuka dan
Teori Situasional, berusaha menerangkan kepemimpinan sebagai efek dari kekuatan
tunggal. Efek interaktif antara faktor individu dengan faktor situasi tampaknya
kurang mendapat perhatian. Untuk itu, penelitian tentang kepemimpinan harus
juga termasuk ; (1) sifat-sifat efektif, intelektual dan tindakan individu, dan
(2) kondisi khusus individu didalam pelaksanaannya. Pendapat lain mengemukakan,
untuk mengerti kepemimpinan perhatian harus diarahkan kepada (1) sifat dan
motif pemimpin sebagai manusia biasa, (2) membayangkan bahwa terdapat
sekelompok orang yang dia pimpin dan motifnya mengikuti dia, (3) penampilan
peran harus dimainkan sebagai pemimpin, dan (4) kaitan kelembagaan melibatkan
dia dan pengikutnya (Hocking & Boggardus, 1994).
Beberapa pendapat tersebut, apabila diperhatikan
dapat dikategorikan sebagai teori kepemimpinan dengan sudut pandang
“Personal-Situasional”. Hal ini disebabkan, pandangannya tidak hanya pada
masalah situasi yang ada, tetapi juga dilihat interaksi antar individu maupun
antar pimpinan dengan kelompoknya. Teori kepemimpinan yang dikembangkan
mengikuti tiga teori diatas, adalah Teori Interaksi Harapan. Teori ini
mengembangkan tentang peran kepemimpinan dengan menggunakan tiga variabel dasar
yaitu; tindakan, interaksi, dan sentimen. Asumsinya, bahwa peningkatan
frekuensi interaksi dan partisipasi sangat berkaitan dengan peningkatan
sentimen atau perasaan senang dan kejelasan dari norma kelompok. Semakin tinggi
kedudukan individu dalam kelompok, maka aktivitasnya semakin sesuai dengan
norma kelompok, interaksinya semakin meluas, dan banyak anggota kelompok yang
berhasil diajak berinteraksi.
Pada tahun 1957 Stogdill mengembangkan Teori
Harapan-Reinforcement untuk mencapai peran. Dikemukakan, interaksi antar
anggota dalam pelaksanaan tugas akan lebih menguatkan harapan untuk tetap
berinteraksi. Jadi, peran individu ditentukan oleh harapan bersama yang
dikaitkan dengan penampilan dan interaksi yang dilakukan. Kemudian dikemukakan,
inti kepemimpinan dapat dilihat dari usaha anggota untuk merubah motivasi
anggota lain agar perilakunya ikut berubah. Motivasi dirubah dengan melalui
perubahan harapan tentang hadiah dan hukuman. Perubahan tingkahlaku anggota
kelompok yang terjadi, dimaksudkan untuk mendapatkan hadiah atas kinerjanya. Dengan
demikian, nilai seorang pemimpin atau manajer tergantung dari kemampuannya
menciptakan harapan akan pujian atau hadiah.
Atas dasar teori diatas, House pada tahun 1970
mengembangkan Teori Kepemimpinan yang Motivasional. Fungsi motivasi menurut
teori ini untuk meningkatkan asosiasi antara cara-cara tertentu yang bernilai
positif dalam mencapai tujuan dengan tingkahlaku yang diharapkan dan
meningkatkan penghargaan bawahan akan pekerjaan yang mengarah pada tujuan. Pada
tahun yang sama Fiedler mengembangkan Teori Kepemimpinan yang Efektif.
Dikemukakan, efektivitas pola tingkahlaku pemimpin tergantung dari hasil yang
ditentukan oleh situasi tertentu. Pemimpin yang memiliki orientasi kerja
cenderung lebih efektif dalam berbagai situasi. Semakin sosiabel interaksi
kesesuaian pemimpin, tingkat efektivitas kepemim-pinan makin tinggi.
Teori kepemimpinan berikutnya adalah Teori
Humanistik dengan para pelopor Argryris, Blake dan Mouton, Rensis Likert, dan
Douglas McGregor. Teori ini secara umum berpendapat, secara alamiah manusia
merupakan “motivated organism”.
Organisasi memiliki struktur dan sistem kontrol tertentu. Fungsi dari
kepemimpinan adalah memodifikasi organisasi agar individu bebas untuk
merealisasikan potensi motivasinya didalam memenuhi kebutuhannya dan pada waktu
yang sama sejalan dengan arah tujuan kelompok. Apabila dicermati, didalam Teori
Humanistik, terdapat tiga variabel pokok, yaitu; (1), kepemimpinan yang sesuai
dan memperhatikan hati nurani anggota dengan segenap harapan, kebutuhan, dan
kemampuan-nya, (2), organisasi yang disusun dengan baik agar tetap relevan
dengan kepentingan anggota disamping kepentingan organisasi secara keseluruhan,
dan (3), interaksi yang akrab dan harmonis antara pimpinan dengan anggota untuk
menggalang persatuan dan kesatuan serta hidup damai bersama-sama. Blanchard,
Zigarmi, dan Drea bahkan menyatakan, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang Anda
lakukan terhadap orang lain, melainkan sesuatu yang Anda lakukan bersama dengan
orang lain (Blanchard & Zigarmi, 2001).
Teori kepemimpinan lain, yang perlu dikemukakan
adalah Teori Perilaku Kepemimpinan. Teori ini menekankan pada apa yang
dilakukan oleh seorang pemimpin. Dikemukakan, terdapat perilaku yang membedakan
pemimpin dari yang bukan pemimpin. Jika suatu penelitian berhasil menemukan
perilaku khas yang menunjukkan keberhasilan seorang pemimpin, maka implikasinya
ialah seseorang pada dasarnya dapat dididik dan dilatih untuk menjadi seorang
pemimpin yang efektif. Teori ini sekaligus menjawab pendapat, pemimpin itu ada
bukan hanya dilahirkan untuk menjadi pemimpin tetapi juga dapat muncul sebagai
hasil dari suatu proses belajar.
Selain teori-teori kepemimpinan yang telah
dikemukakan, dalam perkembangan yang akhir-akhir ini mendapat perhatian para
pakar maupun praktisi adalah dua pola dasar interaksi antara pemimpin dan
pengikut yaitu pola kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan
transaksional. Kedua pola kepemimpinan tersebut, adalah berdasarkan pendapat
seorang ilmuwan di bidang politik yang bernama James McGregor Burns (1978)
dalam bukunya yang berjudul “Leadership”. Selanjutnya Bass (1985) meneliti dan
mengkaji lebih dalam mengenai kedua pola kepemimpinan dan kemudian mengumumkan
secara resmi sebagai teori, lengkap dengan model dan pengukurannya.
Pemimpin
Dalam Perspektif Taqwa
Sungguh ironis, jika kita perhatikan istilah taqwa
ini digunakan sebagai pajangan di bingkai persyaratan lembaga-lembaga formal.
Misalnya, persyaratan untuk menjadi anggota MPR/DPR, presiden, atau
jabatan-jabatan lain, adalah harus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ternyata, setelah lolos sebagai pejabat, perilaku taqwa tidak sejalan dengan
perilakunya, seperti korupsi dan kolusi masih meraja lela. Arogansi,
kesewenang-wenangan dan bentuk kejahatan lainnya malah semakin menggejala. Seperti
itukah pejabat-pejabat bertaqwa sebagaimana yang disyaratkan dalam peraturan
perundang-undangan di negeri ini.
Dalam tulisan ini penulis mencoba mendefinisikan
teori kepemimpinan dalam perspektif Taqwa menurut pandangan Imam Qusyairi,
beliau mendefinisikan taqwa dalam 4 kategori yaitu Tawadhu’, Qona’ah, Wara’,
Yaqin. Yang selanjutnya di integrasikan kedalam teori kepemimpinan versi
penulis. Berikut Penjelasannya:
1. Tawadhu’
Tawadhu’ adl ketundukan kepada kebenaran dan
menerima dari siapapun datang baik ketika suka atau dlm keadaan marah. Arti
janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau
menganggap semua orang membutuhkan dirimu. Lawan dari sifat tawadhu’ adl
takabbur sifat yg sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah mendefinisikan
sombong dgn sabdanya: “Kesombongan adl menolak kebenaran dan menganggap remeh
orang lain.”
Tahukah anda apa yg diperbuat Allah subhanahu wa
ta’ala terhadap Iblis yg terkutuk? Dan apa yg diperbuat Allah kepada Fir’aun
dan tentara-tentaranya? Kepada Qarun dgn semua anak buah dan hartanya? Dan
kepada seluruh penentang para Rasul Allah? Mereka semua dibinasakan Allah
subhanahu wa ta’ala krn tdk memiliki sikap tawadhu’ dan sebalik justru
menyombongkan dirinya.
Tawadhu’ di
Hadapan Kebenaran
Menerima dan tunduk di hadapan kebenaran sebagai
perwujudan tawadhu’ adl sifat terpuji yg akan mengangkat derajat seseorang
bahkan mengangkat derajat suatu kaum dan akan menyelamatkan mereka di dunia dan
akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
“Negeri akhirat itu Kami jadikan utk orang2 yg tdk
menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yg baik
bagi orang2 yg bertakwa”
Fudhail bin Iyadh ditanya tentang tawadhu’ beliau
menjawab: “Ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepada serta
menerima dari siapapun yg mengucapkannya.” . Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
“Tidak akan berkurang harta yg dishadaqahkan dan
Allah tdk akan menambah bagi seorang hamba yg pemaaf melainkan kemuliaan dan
tidaklah seseorang merendahkan diri krn Allah melainkan akan Allah angkat
derajatnya”
Ibnul Qayyim t dlm kitab Madarijus Salikin berkata:
“Barangsiapa yg angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak
kecil atau orang yg dimarahi atau yg dimusuhi mk kesombongan orang tersebut
hanyalah kesombongan kepada Allah krn Allah adl Al-Haq ucapan haq agama haq.
Al-Haq datang dari Allah dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan
diri utk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yg datang dari Allah dan
menyombongkan diri di hadapan-Nya.
Perintah utk
Tawadhu’
Dalam pembahasan masalah akhlak kita selalu terkait
dan bersandar kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Sungguh
telah ada bagi kalian pada diri Rasul teladan yg baik.”
Dalam hal ini banyak ayat yg memerintahkan kepada
beliau utk tawadhu’ tentu juga perintah tersebut utk umat dlm rangka meneladani
beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman“Dan rendahkanlah dirimu terhadap
orang-orang yg mengikutimu yaitu orang-orang yg beriman.” Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda “Sesungguh Allah telah mewahyukan kepadaku agar
kalian merendahkan diri sehingga seseorang tdk menyombongkan diri atas yg lain
dan tdk berbuat zhalim atas yg lain.” Demikianlah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa tawadhu’ itu sebagai sebab
tersebar persatuan dan persamaan derajat keadilan dan kebaikan di tengah-tengah
manusia sebagaimana sifat sombong akan melahirkan keangkuhan yg mengakibatkan
memperlakukan orang lain dgn kesombongan:
Macam-macam Tawadhu’Telah dibahas oleh para ulama
sifat tawadhu’ ini dlm karya-karya mereka baik dlm bentuk penggabungan dgn
pembahasan yg lain atau menyendirikan pembahasannya. Di antara mereka ada yg
membagi tawadhu’ menjadi dua
a.
Tawadhu’ yg terpuji yaitu ke-tawadhu’-an
seseorang kepada Allah dan tdk mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah
b.
Tawadhu’ yg dibenci yaitu tawadhu’- seseorang
kepada pemilik dunia krn menginginkan dunia yg ada di sisinya
Dari penjelasan tentang tawadu’ di atas, kiranya
kita perlu berpikir lebih mendalam mengenai kondisi pemimipin kita di semua
lini. Sebagai pemimpin seharusnya memahami bahwa jabatan itu adalah sebuah
amanah yang harus dijalankan sesuai dengan aturan yang berlaku, baik aturan
positif (hukum) maupun aturan agama. Dalam sebuah kaidah di terangkan bahwa,
jabatan itu adalah amanah, menyia-nyiakan amanah adalah dosa.
Sekarang ini terjadi kegelisahan yang sangat luar
biasa dari perilaku pemimpin mulai dari tingkat yang paling rendah sampai yang
paling atas. Dimulai dari pasca reformasi yang ditandai dengan kebebasan
berekpresi sampai saat ini. Kebebasan di maknai oleh sebagian besar masyarakat
kita sebagai kebebasan yang tanpa batas. Sehingga perilaku yang bebas dan tak
terkendali menyebabkan amburadulnya kondisi bangsa, bahkan terkesan hilangnya
perilaku “tawadu’” terhadap pemimpin, saling tidak percaya terhadap sesama
bahkan yang lebih tragis adalah segala sesuatunya di nilai dengan “fulus”….
Oleh sebab itu, prinsip tawadu’ yang mengedepankan
aspek ‘andap ashor”. Perlu kiranya menjadi kerangka berpikir positif yang
dijadikan landasan bagi para pemimpin untuk selalu mengembalikan segala
sesuatunya kepada Allah. Allah di jadikan alat motivasi dalam perilaku
kepemimpinannya, sehingga sebagai pemimpin minimal dapat menghilangkan perilaku
sombong dan selalu mementingkan rakyatnya.
Kalau kita flashback jauh kebelakang, Nabi Muhammad
SAW mencontohkan sikap sebagai pemimpin yang baik, bertanggungjawab, dan bisa
menjadi contoh bagi masyarakatnya.......beliau menjadi “uswah” bagi semua
(Bersambung….)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar