FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

Minggu, 17 Juni 2012

Prahara Demokrat : Siapa yang di untungkan?


Dalam beberapa minggu ini kita “suguhi” diberbagai media tentang polemik partai demokrat mulai dari keterlibatan bendahara Partai, Muhammad Nazarudin sampai kasus suap pembangunan wisma atlet di Palembang Sumatera Selatan yang melibatkan petinggi partai mulai dari Angelina Sondakh (Wakil Sekjen), Mirwan Amir (Wakil Bendahara), Andi Malarangeng (Sekretaris Dewan Pembina sekaligus Menteri Pemuda dan Olah Raga) sampai pada Ketua umum partai Anas Urbaningrum. Tentu beberapa kasus tersebut berpengaruh terhadap elektabilitas partai (yang menurut survey kepercayaan masyarakat terhadap partai demokrat turun hingga 14%). kondisi ini menjadi perhatian serius dari dewan pimpinan partai untuk segera menyelesaikan persoalan yang membelit partai demokrat, sehingga konsolidasi diberbagai tingkatan semakin di tingkatkan.

                Polemik tersebut diperparah oleh statemen dan sikap beberapa pimpinan dan Pembina partai demokrat yang “seakan-akan” tidak kompak menyikapi kasus tersebut. Sebuah ironi apabila masing-masing elit partai berbeda pendapat dalam menyikapi prahara partai. Situasi ini mengingatkan kita semua pada momen 1998-an, ketika tumbangnya rezim Soeharto, yang merupakan dewan Pembina partai golkar mengakibatkan eksodus besar-besaran petinggi partai golkar menuju rumah baru baik itu bergabung dengan partai lain sampai mendirikan partai sendiri. Akankah partai demokrat pun demikian?
                Dinamika seperti ini bukanlah hal baru dalam dunia politik, karena para pemimpin kita seakan-akan menghalalkan “politik” sebagai wujud dari kebebasan berekspresi, berdemokrasi atau apalah namanya. Jika pemahamannya demikian, maka benar kata bahasa politik “tidak ada teman abadi, yang ada adalah musuh abadi”. Meskipun menurut penulis statemen tersebut tidak sepenuhnya benar tetapi kenyataan “penghalalan” dengan segala cara dalam politik menjadi hal yang biasa dan sah-sah saja, meskipun sebenarnya politik itu suci dan baik, hanya saja kitalah yang membuat kotor.
                Yang jelas, saat ini partai demokrat sedang sakit dan membutuhkan  diagnosa yang tepat dan sesegera mungkin diselesaikan di internal partai sebelum masuknya kepentingan baik dari dalam partai sendiri maupun dari luar partai –baca: partai lain- . sebab kalau tidak, akan berdampak buruk bagi citra partai dan berakibat  semakin menurunnya kepercayaan publik terhadap partai demokrat. bisa jadi inilah ujian sebenarnya dan ujian kualitas politik Anas Urbaningrum didalam memimpin partai berlogo “mercy” tersebut.



Siapa yang di untungkan?
Menurut pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA (Kompas.com, 02/02/2002), kuatnya kepercayaan publik terhadap kasus yang membelit bendahara partai demokrat, M. membuat public berpikir ulang untuk memberikan suaranya lagi kepada partai demokrat pada pemilu 2014 nanti. Hal ini dibuktikan dengan Survei LSI yang dilakukan pada tanggal 1-7 Juni 2011 dimana melibatkan 1.200 responden dibeberapa kota besar di Indonesia, yang menunjukkan bahwa 42,4 persen publik akan mempertimbangkan untuk memilih Demokrat lagi karena kasus Nazaruddin.
Masih menurut LSI perbandingan suara pemilih antara survei pada Januari 2011 dan survei pada bulan Juni, menunjukkan bahwa pada bulan Januari 2011 diperoleh hasil 20,5 persen pemilih masih memberikan suaranya untuk Partai Demokrat. Namun, dalam survei bulan Juni, suara pemilih turun ke angka 15,5 persen. Ada penurunan suara sekitar 5 persen dalam waktu sekitar lima bulan.
Pertanyaanny adalah lari ke manakah suara pemilih itu? Ternyata ada penambahan suara yang signifikan untuk Partai Golkar dalam perbandingan survei pada Januari dan bulan Juni. Yakni 5 persen suara PD yang 'lari' karena kasus Nazaruddin akan berpindah ke sejumlah partai. Berdasarkan hasil survei, 40 persen dari penurunan suara itu akan berpindah ke Partai Golkar, 9 persen ke PDI Perjuangan, 12 persen ke partai lain, dan 39 persen mengambang.
Dengan penurunan suara PD akibat menyeruaknya kasus Nazaruddin tersebut, membuat pesimis para pakar politik jika PD saat ini tidak lagi memimpin perolehan suara tertinggi seandainya dilakukan pemilihan hari ini. Untuk perbandingan saja dari survei LSI bahwa Partai Demokrat pada Januari 2011 meraih dukungan 20,5 persen kini pada Juni 2011 hanya memperoleh 15,5 persen. Sedangkan Partai Golkar pada Januari 2011 hanya 13,5 persen, kini menanjak menjadi 17,9 persen. Lalu PDIP pada Januari 2011 suara berkisar 12 persen, pada Juni 2011 mencapai 14,5 persen dan hasil survei ini bertahan hingga akhir bulan Desember 2011
Mengapa banyak yang mengalihkan suaranya ke partai Golkar? Hal ini disebabkan karena kemiripan platform kedua partai tersebut. spektrum politik Indonesia menunjukkan Golkar dan Demokrat berada di sisi tengah antara paham nasionalis dan agamis. "Golkar adalah partai yang paling menyerupai platform politiknya dengan Demokrat. Oleh karena itu, jika salah satu turun, yang satu pasti naik. Maka, kalau Demokrat turun, yang diuntungkan Golkar”.
Persoalannya adalah bagaimana jika pemilu dilaksanakan hari ini (03 Pebruari 2012)? Silahkan pembaca tebak sendiri….hehehe… Karena sampai saat ini, kasus yang membelit mantan bendahara partai demokrat bukan semakin terang, bahkan “penyakit” partai ini semakin menjalar dan mewabah ke sebagian besar tubuh partai. Dengan “bernyanyinya” M. Nazarudin bahwa yang dilakukannya tidak sendiri melainkan adanya keterlibatan para petinggi partai semakin memperparah kondisi partai. Akankah amputasi politik menjadi solusinya?

Momentum Kudeta Politik
Keterlibatan para petinggi partai, termasuk Ketua umumnya, Anas Urbaningrum, semakin memperparah situasi rumah tangga partai binaan Presiden Susilo Bambang Yudoyono ini, betapa tidak, keterlibatan para petinggi partai tersebut akan menjadi momentum yang tepat bagi petinggi lainnya untuk menyudutkan Anas dkk. Hal ini dibuktikan dari statemen beberapa petinggi partai yang secara terbuka meminta Anas Mundur dari Ketua umum partai demokrat, ditambah lagi dengan tekanan dari beberapa Dewan Pimpinan Daerah (DPD) seperti DPD Papua, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan DKI Jakarta. sungguh menjadi momen tepat bagi lawan politik Anas dkk. Untuk menikmati durian runtuh politik ini.
Disamping itu, dari eksternal partai juga ikut memperkeruh situasi partai, katakanlah beberapa statemen pengamat politik yang menyatakan bahwa prahara ini tidak akan berakhir sebelum Anas dkk. Mundur dari kepemimpinan partai. Belum lagi demontrasi yang dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat (yang saya yakin, demontrasi ini “bayaran”) di rumah Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Tentu atas kejadian yang menimpa partai ini menjadi santapan empuk bagi media baik cetak maupun elektronik untuk secara terus menerus menayangkan dan mempublikasikan kasus yang menimpa PD ini.
Benar adanya, jika Dinamika partai tidak pernah ada akhirnya, namun konsolidasi internal perlu dilakukan secara intensif agar dapat meminimalisir persoalan dan perpecahan di internal partai. Upaya ini harus secara sadar dilakukan oleh semua elemen partai disemua tingkatan, sebab kekompakan dan kesolitas elit tetap harus dijaga agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh pihak lain yang hanya mengambil keuntungan dari kasus tersebut. Golkar sudah membuktikannya, meskipun banyak yang menjadi “penghianat partai” namun eksistensi partai tetap terjaga, setidaknya dapat dilihat dari kepercayaan publik pada pemilu 2004 dan 2009.
Disamping itu, harus juga disadari pula oleh pimpinan partai tentang munculnya riak-riak internal yang memanfaatkan momentum ini untuk kepentingan syahwat politik pribadi. Adanya empat (4) kandidat calon penggati Anas (jika benar-benar menjadi tersangka) adalah bukti adanya riak politik ditubuh partai Demokrat. Oleh sebab itu, diperlukan kebijakan dan kebijaksanaan dari pimpinan partai, terutama ketua dewan Pembina partai untuk senantiasa menanamkan karakter dan komitmen yang kuat kepada seluruh elemen partai dalam upaya menstabilkan kembali partai ini. Jelas ini bukan persoalan yang sederhana, sebuah ujian yang maha dahsyat dan membutuhkan kekompakan dan keseriusan dari berbagai elit pimpinan dalam menyikapi berbagi rumor yang semakin kencang.

………………………………………
Sebagai mantan kader Partai, tentunya saya sangat perihatin atas kejadian tersebut, tetapi jujur, bukan bermaksud untuk membela atau bahkan membenarkan setiap tindak-tanduk pimpinan partai yang terlibat dalam beberapa kasus korupsi belakangan ini, tetapi sangat disayangkan apabila terjadi perpecahan ditubuh partai. Kalau sekarang saja elektabilitas partai demokrat sudah menurun kurang lebih tinggal 12%, bagaimana dengan 1, 2, dan 3 tahun yang akan datang? Kemudian apalagi yang dibanggakan dari demokrat? Jujur, bila mengaca dari kaderisasi partai yang lambat dan diperparah dengan seleksi calon anggota DPR/D dibeberapa tempat penuh dengan kebohongan dan lebih mementingkan kaum Borjuis, maka tidak mustahil nasib demokrat tinggal menunggu waktu. Bukankah selama 2 periode pemerintahan presiden SBY ini peran partai Demokrat sangat urgen dalam menjaga dan mengawal agenda pemerintah? Apakah kepercayaan publik akan menurun atau hilang sama sekali akibat perilaku elit partai yang lebih mementingkan diri dan golongannya dari pada kepentingan bangsa? Hanya mereka yang bias menjawabnya, dan tentu kita tunggu hasil akhir dari prahara partai demokrat ini….

Tidak ada komentar: