Sungguh menarik jika kita membaca buku
terbaru tentang sisi lain Alm. Pak Suharto. Buku ini diberi judul “pak
Harto the untold stories”, bukan karena cerita dalam buku tersebut tetapi
subtansi isi dari buku itu yaitu mengupas sisi lain mantan presiden Soeharto.
Selama ini, kita (generasi abad 21) selalu disuguhkan dengan cerita “bualan”
bahkan terkesan negatif dari sosok Pak harto dengan berbagai versi. Selama
lebih dari 32 tahun beliau memimpin “seakan-akan” tidak melalukan hal yang
positif bagi bangsa ini. Menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat masa kini,
apa mungkin selama itu memimpin nyaris tidak ada kebaikan sama sekali…? seorang
pujangga mengatakan bahwa seorang pahlawan akan dinilai oleh sejarah baik atau
buruknya, hero atau zero, pahlawan atau pecundang, dan
lain-lain. Hari ini, penilaian itu muncul dari (setidaknya) 113 tokoh baik dari
dalam maupun luar negeri. Gambaran sikap dan pengakuan yang jujur dari
tokoh-tokoh tersebut setidaknya memberikan penerangan dan pemahaman lain kepada
masyarakat khususnya generasi sekarang ini, tentang sisi lain Soeharto.
Bunga Rampai Buku Pak Harto The Untold Stories:
Pandangan beberapa tokoh.
Buku Pak
Harto The Untold Stories kini tengah menjadi perbincangan hangat diberbagai pelosok
negeri. Peluncuran buku Pak Harto The
Untold Stories secara resmi sudah dilaksanakan, Rabu (8/6/2011) di Museum Purna
Bhakti Pertiwi di Taman Mini Indonesia Indah. Peluncuran buku The Untold
Stories tersebut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat. seperti Taufiq
Kiemas, Aburizal Bakrie, Try Sutrisno, dan Djafar H Assegaf. Buku yang ditulis
oleh Dwitri Waluyo, Anita D Ambarwati, dan Bakarudin, dengan editor Dr.
Arissetyanto yang merupakan Rektor Universitas Mercu Buana, menceritakan
tentang kisah sisi-sisi pribadi Soeharto dan juga foto-foto yang tak pernah
dipublikasikan sebelumnya. Ada yang tak terduga, jenaka, dan juga mengharukan.
Dalam buku Pak
Harto The Untold Stories ada 113 narasumber yang akan mengungkapkan kisah
mereka dengan sosok Soeharto. Beberapa orang yang turut berkisah didalam buku
tersebut seperti mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad, mantan
Presiden Filipina, Fidel Ramos. Bahkan, mantan Perdana Menteri Singapura, Lee
Kuan Yew, dan Raja Brunei Darussalam, juga Sultan Bolkiah turut menuliskan
sendiri pengalamannya.
Salah satu
kesaksian datang dari mantan ajudan dan Juga Panglima TNI Jendral (Purn)
Wiranto. Ia mengisahkan, setiap hendak bermain golf di Rawamangun, Pak Harto
hanya dikawal satu jip di belakang. Suatu kali ketika tiba di jalan Pemuda dan
hendak belok kiri ke arah Rawamangun, polisi terlalu lama menghentikan
kendaraan akibatnya terdengar klakson bersahut-sahutan, "Lain kali polisi tidak
perlu menyetop terlalu lama. Mereka kan punya keperluan yang mendesak,
sedangkan saya kan hanya mau berolahraga. Jadi biar saya menunggu sebentar, kan
tidak apa-apa " ujar Pak Harto seperti ditirukan Wiranto.
Kesaksian lain
diungkapkan oleh Siti Hutami Endang Adiningsih " Setiap bulan Bapak
sendiri yang mengingatkan saya untuk membayar uang sekolah. Setelah bapak
memberikan saya uangnya, ibu mengingatkan saya untuk membawa beras karena pada
saat itu saya duduk di sekolah dasar di Perguruan Cikini, biaya sekolah
dibayarkan dengan uang dan beras satu liter. Bapak tidak berkenan jika hal itu
dilakukan oleh orang lain. Bapak pula yang memberikan saya pendidikan agama dan
mengajari saya membaca Al Quran.
Senada
dengan pandangan beberapa tokoh di atas, mantan Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla
menjelaskan bahwa Peran Presiden RI periode 1966-1998, HM Soeharto, dinilai
besar dalam pembangunan ekonomi dan pertanian Indonesia. Hal tersebutdapat
dibuktikan oleh Soeharto diawal masa kepemimpinannya mampu menurunkan tingkat
inflasi dari 650 persen menjadi 12 persen . Selain itu,
almarhum Soeharto semasa menjabat Presiden RI juga punya andil besar dalam
pembangunan irigasi pertanian yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara, yang
sampai saat ini belum ada presiden yang mampu menandinginya. "Itulah
sumbangan terbesar dalam pembangunan ekonomi, selain membuat Indonesia ini
dapat berswasembada pangan karena belum ada presiden yang dapat membangun
saluran irigasi pertanian sebesar yang dibangun Pak Harto," ujar Kalla.
Jusuf Kalla
juga menyampaikan pengalamannya tatkala suatu pagi dipanggil ke rumah Presiden
Soeharto di Cendana untuk diminta membantu salah satu badan usaha milik negara
(BUMN). "Ketika itu banyak orang mengatakan, hati-hati ketemu dengan Pak
Harto, jangan sampai mengangkat tangan di atas bahunya. Saya menerangkan
berbagai hal dengan mengangkat tangan di atas bahunya, ternyata beliau tidak
marah dan biasa-biasa saja," katanya. Kalla pun mengemukakan, sebenarnya
Pak Harto itu tidak selalu seperti yang dibicarakan orang, tetapi karena
kebaikannya itulah yang sering disalahgunakan orang.
Sekelumit Cerita dan ungkapan dari beberapa
tokoh yang selama ini bersentuhan langsung dengan Mantan Presiden tersebut
tentu menjadi acuan dan gambaran bagi kita semua untuk menilai seseorang hanya
dari satu sisi saja, yang (sementara ini) terdengar nyaring hanya pada sisi
negatif-nya saja.
Belajar
menghargai para pemimpinnya
Pada prinsipnya setiap kita adalah pemimpin,
dan akan bertanggungjawab dengan kepemimpinannya. Dalam sebuah hadits nabi SAW
pernah mengingatkan kita “bahwa kalian
akan menjadi saksi (kebaikan dan keburukan) bagi yang lain di dunia, dan
malaikat akan menjadi saksi di akhirat”. Sepenggal kalimat yang mengandung
pesan yang luar biasa ini, (menurut pemahaman saya) setidahnya mengisyaratkan 3
hal: pertama, bahwa setiap manusia akan menjadi saksi bagi yang lain kelak
ketika Allah SWT meminta pertanggungjwaban kepada apa yang sudah dilakukan oleh
manusia tersebut. Kedua, bahwa
kemampuan manusia sifatnya terbatas. Dan ketiga,
penilaian seseorang bersifat subyektif, dalam artian bahwa pemahaman orang lain
terhadap yang banyak disebabkan oleh faktor yang mempengaruhinya saat itu.
Dalam pembahasan pada tulisan ini lebih terfokus pada pemahaman yang ke tiga,
yaitu subyektifitas pandangan manusia terhadap yang lain.
Kita seharusnya menyadari sepenuhnya bahwa
setiap manusia mempunyai kelemahan dan kelebihan dan itulah makna obyektifitas
penilaian. Pun dengan konteks pembahsan dalam tulisan ini, bahwa para pemimpin
negeri ini tidak lepas dari under estimate masyarakat terhadap kepemimpinannya.
Tentu kalau kita mau jujur, sikap under estimate tersebut muncul karena sikap
anti, lawan politik, teraniaya dan lain sebagainya. namun secara general saya
katakan perilaku tersebut tidak lain karena tidak mendapat “jatah Kue” masa
kepemimpinannya, atau minimal tidak tersentuh dengan kue pembangunan tersebut.
Dari berbagai kajian yang pernah saya
pelajari, bahwa setiap orang mempunyai karakter kepemimpinan sendiri-sendiri,
sehingga perilaku kepemimpinan para “penguasa” bisa berbeda satu dengan yang
lain. Namun demikian, (dengan penuh keyakinan) dapat saya katakan bahwa semua
pemimpin –baca: Presiden Indonesia- mempunyai I’tikad yang baik dalam upaya
membangun Indonesia yang lebih baik, tentunya dengan cara masing-masing. Namun
tujuannya tetaplah sama yaitu kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya. Pun
apabila ada penyelewengan itu termasuk “human
error” yang ada diluar pola alamiah pemimpin yang saya maksud. Dengan cara
masing-masing pemimpin tersebut dalam membangun bangsa ini tentu membutuhkan
komitmen dan dukungan dari semua komponen masyarakat agar arah pembangunan semakin
jelas dan tertata dengan baik.
Prinsip dasar inilah yang perlu di sadari oleh
kita semua agar tidak ada persoalan dikemudian hari. Mungkin inilah yang
menjadi penyebab kenapa para presiden kita selalu tersandung masalah diakhir
masa kepemimpinannya, termasuk mantan presiden Soeharto. Perlu sikap bijak dan
penghargaan dari kita semua atas perilaku mantan presiden Indonesia dengan
menilai dan menghargai atas jaja-jasa besar mereka, bukan mencari kesalahan-kesalahanya.
Dan kesalahan kepimipinan tersebut seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi
para pemimpin dimasa yang akan datang untuk dijadikan dasar kepemimpinannya
kelak. Bukankah Nabi SAW pernah mengingatkan kita semua bahwa “ ambillah yang
baik dimasa lalumu dan tinggalkanlah apa yang tidak baik”. Wallahu a’alam
By. Zaim Mukaffi
2 komentar:
Aftershokz trekz titanium and diamond rings, 3
The 3,000-piece titanium damascus diamond-ringed bandar gold diamond ring titanium fat bike is made of titanium ingot the same sugarboo extra long digital titanium styler alloy, also known as the diamond-ringed bandar gold, in diamond-ringed titanium vs ceramic flat iron gold.
yp654 staud vestidos,miu miu sac,volcomsuisse,mephisto boty,pinkoeesti,mephisto sandale,staudnorgeshop,miu miu parfüüm,staud ropa zx555
Posting Komentar