FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

Jumat, 15 Juni 2012

Antara idialitas, profesionalitas dan arogansi

By, Miaz Al Barsany

Belajar dari kesalahan sebelumnya tentu menjadi acuan atau penilaian untuk merubah tatanan yang sebelumnya kurang baik menjadi lebih baik lagi. Konsep tersebut dinilai sebagai prinsip dasar dinamika hidup dari kata “change” yang di populerkan oleh Reinald Kasali. Sangat ironi sekali apabila perubahan ke depan terjadi sebaliknya. Tidak mudah memang merubah “menjadi lebih baik dari sebelumnya”, dibutuhkan beberapa prasyarat dasar untuk mencapainya, diantaranya adalah keyakinan yang kuat, komitmen (sungguh-sungguh), dan tentunya profesionalitas (kompetensi).
Dalam perkembangan selanjutnya, persoalan profesionalitas menjadi hal yang sulit dilaksanakan. Hal ini disebabkan oleh sikap arogansi manusia yang selalu ingin menang sendiri tanpa mempertimbangkan sebenarnya masalah tersebut menjadi kewenangannya atau tidak. Umumnya, sikap arogan ini tidak serta merta muncul secara spontan dari sikap atau watak pribadinya, melainkan watak dasar yang terbentuk dari lingkungan yang keras, apatis dan tak terstruktur –baca: pasaran- sebelumnya. Disamping itu, menurut Tamam Qodari, munculnya sikap tersebut disebabkan oleh kurang percayanya pembuat kebijakan kepada bawahannya.
Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Khadi Suprapto, dia melihat dari sisi lain bahwa Arogansi bisa disebabkan oleh 2 hal; pertama, egoisme pemimpin, dan kedua, karena ketidak konsistennya pemimpin.
Sikap egoisme pemimpin ini dapat menimbulkan efek negatif dari keleluasan dan kebebasan berekpresi bahkan berinovasi dalam menjalankan tugasnya sebagai bawahan. Dalam aplikasinya sikap tersebut haruslah di rubah atau minimal dicarikan titik tengah (win-win solution) dengan cara memberikan kebebasan bawahan untuk berinovasi, tentunya tetap dibawah Tupoksi-nya. Kenyataan demikian diyakini dapat menciptakan budaya organisasi yang sehat dan lebih produktif.
Dalam teori produksi, inovasi produk dapat dihasilkan dari ekspresi dan budaya organisasi yang ekslusif, yaitu bagaimana manajemen memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada karyawan untuk berkreasi dalam berproduksi. Pun dengan teori produksi islami, islam sebagai agama yang komprehensip memberikan porsi yang sangat besar kepada karyawan didalam berkreasi tanpa ada intervensi dari pimpinan atau atasan secara personal. Hal ini diyakini pula sebagai bentuk eksklusifitas produksi secara islam. Konsekuensi dari sikap tersebut tentu adanya Reward dan Punishment secara adil.
Sedangkan sikap ketidak konsistennya pemimpin diklasifikasi dalam 2 persoalan, pertama karena memang ketidakmampuan manajerialnya atau ketidak mampuan dalam didalam membawa organisasi tersebut ke dapan, atau dengan kalimat yang lebih sederhana tidak ber-visi. Kondisi yang demikian ini merupakan “penyakit” organisasi yang sudah meng-gejala dihampir banyak organisasi di Indonesia baik itu organisasi Laba maupun Nirlaba, pemerintah maupun swasta, bahkan organisasi sejenis paguyuban.
Oleh sebab itu, diperlukan sikap profesionalitas seorang pemimpin di dalam menjalankan organisasinya dengan memberikan dan menempatkan orang yang tepat untuk menjalankan pekerjaan tersebut, hal ini tentu dilandasi oleh satu kenyataan bahwa kebebasan berekspresi dan berinovasi merupakan sikap alamiah manusia. Kalimat “right man in the right place” menjadi komitmen atas profesionalitas kebijakan berorganisasi tanpa ada campur tangan atas Tugas pokok dan fungsinya. Dengan tidak adanya campur tangan tersebut merupakan sikap obyektif dan pengakuan akan keterbatasan kemampuan para pembuat kebijakan. Sikap yang demikian ini perlu di budayakan disetiap organisasi agar aktifitas organisasi dapat berjalan sesuai dengan visi dan misi-nya, yang ending-nya tujuan organisasi dapat tercapai sesuai dengan apa yang di rencanakan. Dan sebaliknya.
Kebanyakan di organisasi Indonesia sering melakukan kebijakan yang prudensial bahkan cenderung represif terhadap bawahan, kondisi yang demikian ini cenderung mengabaikan dan bahkan keluar dari sikap profesionalitas yang saya maksud tadi. Pembenahan system mutlak diperlukan untuk memperbaiki budaya organisasi yang lebih baik, sehingga produktifitas berorganisasi dapat terbentuk dan tentunya berhasil sesuai dengan harapan. Inilah yang saya pahami dari buku “change”, sebuah buku yang idial tanpa dilandasi oleh kepentingan personal tertentu.

Tidak ada komentar: