Belajar dari kesalahan sebelumnya
tentu menjadi acuan atau penilaian untuk merubah tatanan yang sebelumnya kurang
baik menjadi lebih baik lagi. Konsep tersebut dinilai sebagai prinsip dasar
dinamika hidup dari kata “change” yang di populerkan oleh Reinald Kasali.
Sangat ironi sekali apabila perubahan ke depan terjadi sebaliknya. Tidak mudah
memang merubah “menjadi lebih baik dari sebelumnya”, dibutuhkan beberapa
prasyarat dasar untuk mencapainya, diantaranya adalah keyakinan yang kuat,
komitmen (sungguh-sungguh), dan tentunya profesionalitas (kompetensi).
Dalam perkembangan selanjutnya,
persoalan profesionalitas menjadi hal yang sulit dilaksanakan. Hal ini
disebabkan oleh sikap arogansi manusia yang selalu ingin menang sendiri tanpa
mempertimbangkan sebenarnya masalah tersebut menjadi kewenangannya atau tidak.
Umumnya, sikap arogan ini tidak serta merta muncul secara spontan dari sikap
atau watak pribadinya, melainkan watak dasar yang terbentuk dari lingkungan
yang keras, apatis dan tak terstruktur –baca: pasaran- sebelumnya. Disamping
itu, menurut Tamam Qodari, munculnya sikap tersebut disebabkan oleh kurang
percayanya pembuat kebijakan kepada bawahannya.
Berbeda dengan apa yang disampaikan
oleh Khadi Suprapto, dia melihat dari sisi lain bahwa Arogansi bisa disebabkan
oleh 2 hal; pertama, egoisme pemimpin, dan kedua, karena ketidak konsistennya
pemimpin.
Sikap egoisme pemimpin ini dapat
menimbulkan efek negatif dari keleluasan dan kebebasan berekpresi bahkan
berinovasi dalam menjalankan tugasnya sebagai bawahan. Dalam aplikasinya sikap
tersebut haruslah di rubah atau minimal dicarikan titik tengah (win-win
solution) dengan cara memberikan kebebasan bawahan untuk berinovasi, tentunya
tetap dibawah Tupoksi-nya. Kenyataan demikian diyakini dapat menciptakan budaya
organisasi yang sehat dan lebih produktif.
Dalam teori produksi, inovasi
produk dapat dihasilkan dari ekspresi dan budaya organisasi yang ekslusif,
yaitu bagaimana manajemen memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada
karyawan untuk berkreasi dalam berproduksi. Pun dengan teori produksi islami,
islam sebagai agama yang komprehensip memberikan porsi yang sangat besar kepada
karyawan didalam berkreasi tanpa ada intervensi dari pimpinan atau atasan
secara personal. Hal ini diyakini pula sebagai bentuk eksklusifitas produksi
secara islam. Konsekuensi dari sikap tersebut tentu adanya Reward dan
Punishment secara adil.
Sedangkan sikap ketidak
konsistennya pemimpin diklasifikasi dalam 2 persoalan, pertama karena memang
ketidakmampuan manajerialnya atau ketidak mampuan dalam didalam membawa
organisasi tersebut ke dapan, atau dengan kalimat yang lebih sederhana tidak
ber-visi. Kondisi yang demikian ini merupakan “penyakit” organisasi yang sudah
meng-gejala dihampir banyak organisasi di Indonesia baik itu organisasi Laba
maupun Nirlaba, pemerintah maupun swasta, bahkan organisasi sejenis paguyuban.
Oleh sebab itu, diperlukan sikap
profesionalitas seorang pemimpin di dalam menjalankan organisasinya dengan
memberikan dan menempatkan orang yang tepat untuk menjalankan pekerjaan
tersebut, hal ini tentu dilandasi oleh satu kenyataan bahwa kebebasan
berekspresi dan berinovasi merupakan sikap alamiah manusia. Kalimat “right man
in the right place” menjadi komitmen atas profesionalitas kebijakan
berorganisasi tanpa ada campur tangan atas Tugas pokok dan fungsinya. Dengan
tidak adanya campur tangan tersebut merupakan sikap obyektif dan pengakuan akan
keterbatasan kemampuan para pembuat kebijakan. Sikap yang demikian ini perlu di
budayakan disetiap organisasi agar aktifitas organisasi dapat berjalan sesuai
dengan visi dan misi-nya, yang ending-nya tujuan organisasi dapat tercapai
sesuai dengan apa yang di rencanakan. Dan sebaliknya.
Kebanyakan di organisasi Indonesia
sering melakukan kebijakan yang prudensial bahkan cenderung represif terhadap
bawahan, kondisi yang demikian ini cenderung mengabaikan dan bahkan keluar dari
sikap profesionalitas yang saya maksud tadi. Pembenahan system mutlak
diperlukan untuk memperbaiki budaya organisasi yang lebih baik, sehingga
produktifitas berorganisasi dapat terbentuk dan tentunya berhasil sesuai dengan
harapan. Inilah yang saya pahami dari buku “change”, sebuah buku yang idial
tanpa dilandasi oleh kepentingan personal tertentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar