Sihir sepakbola dalam beberapa dekade terakhir ini
benar-benar mempesona dan menjadi ekstasi bagi setiap kalangan, tidak peduli
laki-laki atau perempuan, tua-muda, orang kaya atau miskin, desa atau kota
semua terhipnotis dengan kecepatan, akurasi dan atraksi pemainnya di atas
lapangan. Apalagi era 21, dimana sepakbola sudah didesain secara modern dengan
berbagai fasilitas penunjangnya yang sangat memadai sehingga atraksi seniman
bola bisa dinikmati dengan mudah oleh segenap masyarakat di penjuru dunia.
Sekarang ini, hampir semua negara menjadikan
sepakbola sebagai pilot project promosi nama negaranya di seantero dunia, apa
yang dimiliki oleh negara tersebut dapat secara nyata diperkenalkan melalui
sepakbolanya. Maka tidak mustahil apabila banyak uang mengalir pada aktivitas
ini. Tengok saja, bagaimana pemerintah Indonesia menyediakan dana 130 Milyar
lebih untuk renovasi stadion yang akan dipakai untuk piala Asia, bagaimana
Jerman menghasiskan hampir 3 trilyun untuk memperbaiki stadion dan fasilitas
pendukungnya, dan yang terbaru Afrika Selatan sebagai negara miskin dengan rela
menyediakan dana Negara sebesar 5 trilyun untuk membangun dan merenovasi
stadion dan penunjang kegiatan piala dunia 2010. begitu menghipnotisnya
sepakbola dimata masyarakat dunia.
Sepakbola
dan politik
Dalam sepakbola lazimnya dikenal dengan three
strategic theory of football yaitu bertahan (defense), menyerang, dan Normal.
Teori tersebut bisa dipakai oleh pelatih dimana saja dan kapan saja tergantung
kebutuhan dan siapa lawan, misalnya Italia lebih senang menggunakan teori
bertahan, sesekali menyerang balik dengan cepat, Belanda dengan total
footballnya yang identik dengan penyerangan disemua lini, Jerman dengan gaya
normal-normal saja. Semua itu adalah strategi yang digunakan oleh setiap
pelatih untuk memenangkan pertandingan. Sebenarnya, strategi yang di gunakan
dalam dunia sepakbola tidak berbeda dengan strategi yang digunakan dalam dunia
militer, bahkan banyak pakar mengatakan bahwa strategi yang digunakan dalam
sepakbola menyontek strategi militer.
Mari sejenak kita lihat awal mula sepakbola terkait
hubungannya dengan politik. Dulu, orang mengira sepak bola lahir di negara
Inggris. Tetapi pada kenyataannya bahwa sepak bola yang lahir di Inggris adalah
sepak bola modern, sedangkan permainan sepak bola telah ditemukan jauh hari
dari pada sepakbola yang dikembangkan pertama kalinya di Inggris yaitu sejak
3000 tahun yang lalu dan tentunya dalam bentuk yang berbeda-beda. Menurut Bill
Muray (dalam Sembiring), pakar sejarah sepak bola, dalam bukunya The World
Game: A History of Soccer, sepak bola sudah dimainkan oleh orang-orang di era
Mesir Kuno sejak awal Masehi. Saat itu, orang mesir sudah mengenal permainan
membawa dan menendang bola yang dibuat dari buntalan kain linen. Sejarah Yunani
Purba juga mencatat ada sebuah permainan yang disebut episcuro, yaitu permainan
dengan menggunakan bola. Bukti itu dapat dilihat pada relief-relief di dinding
museum yang melukiskan anak muda memegang bola bulat dan memainkannya dengan
paha. Sepak bola juga disebut-sebut berasal dari daratan Cina. Dalam sebuah
dokumen militer disebutkan bahwa sejak 206 SM, pada masa pemerintahan Dinasti
Tsin dan Han, orang-orang sudah memainkan permainan bola yang disebut tsu chu.
Tsu mempunyai arti “menerjang bola dengan kaki“. Sedangkan chu, berarti “bola
dari kulit dan ada isinya“. Mereka bermain bola yang terbuat dari kulit
binatang dengan cara menendang dan menggiringnya ke sebuah jaring yang
dibentangkan pada dua tiang. Jepang pun tidak mau ketinggalan. Sejak abad ke-8,
konon masyarakatnya sudah mengenal permainan ini. Mereka menyebutnya sebagai
Kemari. Bolanya terbuat dari kulit kijang berisi udara
Bagaimana dengan dinegeri unik seperti Indonesia,
menurut dokumen sejarah Indonesia yang ada di negeri Belanda “masih
perdebatan”, bahwa sejarah olahraga sepakbola di Indonesia diawali oleh
pendatang dari luar negeri, bukan dari Indonesia asli, yakni para pedagang dari
negeri Tiongkok sekitar abad 7 M yang mulai masuk wilayah nusantara khususnya
diwilayah kerajaan Sriwijaya. Seperti diketahui permainan masyarakat Cina abad
ke-2 sampai dengan ke-3 SM sudah mengenal olah raga sejenis sepak bola yang
dikenal dengan sebutan “tsu chu “. Kemudian, olah raga itu tersebut juga ada
sebagian dibawa dari para pedagang yang berasal dari negeri Belanda, awal
masuknya ke Indonesia sekitar tahun 1602 M, dan kemudian selanjutnya pada
perkembangan-Nya Sepakbola tersebut lahir dari proses aktifitas dagang mereka
di Indonesia.
Sepakbola sejagat yang dikenal dengan sepakbola
piala dunia sudah memasuki akhir dari drama uforia manusia sejagat, semenjak
Uruguai dikalahkan Belanda 3:2, dan Jerman dikalahkan Spanyol 1:0, dan dalam
beberapa hari kedepan kita sudah memperoleh hasil akhirnya, siapa juara dunia
sejati antara Belanda Vs Spanyol. Namun demikian bukan berarti magnet sepakbola
berakhir begitu saja, masih banyak agenda-agenda sepakbola yang akan menghiasi
beberapa stasiun televisi, dan yang demikian ini akan terus dan terus, sampai
sulit menebak kapan cerita fenomenal bernama sepakbola ini berakhir. Dan
realitasnya, magnet sepak bola begitu kolosal, dan sangat memikat perhatian
umat manusia, sehingga manusia dari segala penjuru dunia dan dari aneka suku
bangsa, negara, budaya, agama, ras, yang berbeda itu pun bisa menyatu menjalin
persahabatan dan membangun kebersamaan. Tak pelak, perhelatan sepak bola piala
dunia inipun dijadikan sebagai media diplomasi politik negara-negara di dunia.
Dan sangat mungkin sepakbola menjadi alat politik
tidak hanya politik negara tetapi sudah merambah pada politik lokal. Sepak bola
tidak lagi sekadar kegiatan netral, di mana sepak bola untuk sepak bola itu
sendiri, melainkan ada kandungan politik, sekaligus menjadi sumber inspirasi
dan pembelajaran dalam politik. Artinya, lewat sepak bola seperti yang
dipertontonkan pada piala dunia yang begitu akbar, setiap masyarakat dan
bangsa-bangsa dapat saling mempelajari, saling berjuang membina relasi
persaudaraan sambil menciptakan keuntungan-keuntungan sosial, politik, budaya,
dan ekonomi.dan pertanyaan adalah apa hubungan antara sepakbola dan politik?
Robert Kennedy (1960) dalam pidatonya yang fenomenenal mengatakan bahwa sepak
bola dapat dijadikan sebagai alat politik karena dalam momentum akbar sepak
bola, ia dapat dipandang sebagai suatu ukuran yang menunjukkan sejauh mana
suatu bangsa di dunia internasional.
Pada kenyataannya, sepak bola dijadikan sebagai
alat politik bukan hanya dalam wacana, melainkan dalam perjalanan sejarahnya
kerap dijadikan sebagai alat legitimasi politik dan kekuasaan dari para
politisi atau penguasa. Mari kita telusuri, baik ditingkatan lokal maupun
negara, banyak politisi atau penguasa menggunakan sepak bola untuk memperkuat
dan menaikkan pamor politik, juga tidak jarang para politisi memiliki langsung
sebuah klub sepak bola. Mantan Perdana Menteri Italia, Berlusconi, merupakan
contoh yang paling pas seorang politisi memiliki klub sepak bola, yakni AC
Milan.
Tak beda jauh dengan Berlusconi, diktator Bennito
Mussolini, penguasa Italia dan diktator Spanyol, Franco. Franco konon pernah
memanfaatkan klub sepak bola Real Madrid sebagai alat legitimasi kekuasaannya,
dan Mussolini, Italia kerap merasa dirinya penting ditampilkan dalam pose-pose
olahraga, seperti bermain anggar, tenis, atau naik kuda. Tak jarang Mussolini
berada di tengah-tengah tim sepak bola. Bagi Mussolini, seorang politikus
sejati, haruslah serentak merupakan simbol kejantanan sportif, seperti halnya
seorang pese-pak bola. Karena itulah, pada Piala Dunia 1934, sang diktator
memaksakan untuk digelar di Italia, dan kesebelasan nasional Italia dipaksa
harus menang meski harus "mati" di lapangan.
Di Indonesia, Bung Karno merupakan contoh dari
politisasi sepakbola, karena ia menggunakan olahraga atau sepak bola sebagai
alat legitimasi politik kekuasaan. Hal ini dapat dilihat melalui pembangunan
Gelora Bung Karno (GBK), di masa pemerintahannya. Bangsa inipun diharumkan
namanya lewat pembangunan GBK waktu itu, yang meskipun di balik itu ia dinilai
terlalu mengorbankan aspek ekonomi rakyat dalam negeri dan membiarkan rakyatnya
terpuruk dalam kemiskinan.
Lebih sempit lagi, fenomena pengakuan sepakbola
dalam politik tercermin ketika terjadi pemilihan umum daerah, dimana para calon
baik Gubernur, Walikota/Bupati, yang sebelumnya tidak peduli dengan sepakbola
lokalnya menjadi sangat peduli, bahkan menjanjikan akan mengayomi, menghidupi
dan bahkan akan menyediakan dana dari APBD untuk kelangsungan kehidupan
sepakbolanya, semua itu tidak lain adalah upaya politisasi kepentingan sesaat
untuk mengejar ambisi politiknya, dengan suatu harapan bahwa suporter atau
pecinta sepakbola setempat akan memilih calon tersebut menjadi gubernur, bupati
atau walikota…..Aneh…!!! ada apa dengan sepakbola?
Belum lagi dalam permainan sepak bola itu sendiri
secara nyata mengajarkan kepada kita aspek nilai atau perikehidupan politik,
atau seperti strategi memenangkan pertarungan politik atau keterlibatan publik
di dalamnya yang diidentikan ke dalam apa yang disebut demokrasi. Misalnya,
dalam demokrasi, yang didahulukan adalah kepentingan umum, kemudian barulah
kepentingan pribadi. Tujuan utama demokrasi adalah menciptakan ruang bagi
terciptanya keadilan dan kesejahteraan bersama.
Itulah yang terlihat secara jelas dalam permainan
sepak bola, yaitu yang diutamakan adalah kebersamaan untuk menggapai
kemenangan. Jika dalam politik, partai politik adalah arena atau lapangan
politik bagi rakyat untuk membangun politik demokrasi, maka dalam sepak bola,
lapangan hijau menjadi "lapangan politik" milik rakyat untuk membangun
kepentingan bersama.Sayangnya, dalam praksis politik, yang menonjol adalah
perjuangan para politisi untuk memenuhi ambisi pribadi, bukan kepentingan
bersama seperti dalam permainan sepak bola.
Sepakbola
dan Ekonomi
Satu sampai dua tahun yang lalu terjadi perubahan
kebijakan yang dikeluarkan oleh Mendagri tentang penggunaan anggaran negara
untuk kepentingan sepakbola lokal. Dimana ada pembatasan pembiayaan terhadap
klub sepakbola yang dimiliki oleh daerah maksimal 10 Milyar. Padahal dalam
prakteknya dana belanja klub jauh diatas dana pembatasan mendagri tersebut. Hal
ini berdampak bagi kelangsungan kehidupan klub yang selama ini sangat
menggantungkan pada Infus dana APBD. Tengok saja Persebaya yang membutuhkan
dana 25 Milyar, Persib Bandung 25 Milyar, Persija 35 Milyar dan lain-lain.
Melihat kenyataan yang demikian ada kegelisahan yang sangat luar biasa dari
stakeholder klub, baik itu pemilik, pemain dan suporter, bahwa klub yang mereka
cintai, klub yang menjadi kebanggaan daerahnya bahkan klub yang menjadi sumber
nafkah akan mati sia-sia. Wou…luar biasa…
Upaya yang dilakukan oleh Menteri dalam Negeri
tidak lain dan tidak bukan –sebenarnya- adalah menjadikan industri sepakbola
sebagai industri perseroan, artinya bahwa sepakbola akan menjadi institusi
bisnis yang tidak hanya menghasilkan keindahan seniman bolanya tetapi juga
menghasilkan keuntungan secara ekonomi.
Dalam industri sepak bola yang selama ini
berkembang dinegara-negara Eropa, sepakbola benar-benar menjadi business
potential yang menjanjikan. Betapa Gilleth menyediakan dana 8 trilyun untuk
memiliki Liverpool, betapa Real Madrid menghabiskan dana 3.2 trilyun hanya
untuk membeli paket Ronaldo, Kaka dan Albiol. Terlebih lagi gaji pemain Real
Madrid yang rata-rata 1 Milyar/Minggu. Luar biasa…..Dan masih banyak fenomena
ekonomi yang irrasional dalam sepakbola. Oleh sebab itu, betapa pentingnya
industri bisnis ini dalam kegiatan ekonomi suatu daerah bahkan negara. Sejenak
kita gali beberapa pengaruh kegiatan sepak bola terhadap kegiatan ekonomi:
Pertama, terjadinya effect multiplier, dengan kata
lain bahwa adanya kegiatan sepakbola akan menjadikan stadion baru, dengan
stadion baru secara otomatis akan mendatangkan pedagang-pedagang baru baik
makanan, tiket, bahkan Merchandis klub/tim dan seterusnya. Sehingga secara
sederhana dapat dikatakan bahwa munculnya sepakbola (yang profesional) akan
menambah jumlah tenaga kerja disemua kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan
sepakbola, dan lain sebagainya. Sehingga kegiatan ekonomi di daerah tersebut
akan berjalan dengan baik.
Kedua, sepakbola dapat menjadi “iklan” bagi daerah
ataupun negara.
Ketiga, sepakbola akan menjadi magnet industri yang
berbasis kompetitif bagi pngusaha-pengusaha baik lokal maupun domestik terhadap
kepemilikan sebuah klub. Dll.
Dari fenomena di atas dapat di simpulkan bahwa
sepak bola bisa menjadi magnet yang luar biasa bagi kelangsungan kehidupan
manusia tanpa membedakan suku, budaya, ras, agama atau apapun. Oleh sebab itu,
mari kira jadikan sepakbola sebagai satu seni yang mampu menghipnotis batin
kita sehingga muncul ketenangan dan kesenangan bersama.
Bravo sepak bola Indonesia……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar