Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa
yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya. Ramalan ini dikenal pada
khususnya di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun
oleh para pujangga.Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada
kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan
keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan
bahwasanya Jayabayalah yg membuat Ramalan-ramalan tersebut.
Berikut adalah sepenggal kisah tentang asal muasal
dan isi kitab ramalan prabu Jayabaya yang saya kutip dari berbagai informasi
salah satunya adalah id.wikipedia.org/wiki/Ramalan_Jayabaya
Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada
mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber
ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan
Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H
= 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang
sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613
M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram
bertahta (1613-1645 M).
Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli,
adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran
Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang
Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang
artinya punya kekuasaan wilayah "Perdikan" yang berkedudukan di
Kadilangu, dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis
bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang
riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam,
sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat
Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.
Disamping itu beliau menjabat sebagai Kepala
Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II
(1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad
Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja
Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719)
yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang
memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706),
Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang
sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa
= 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.
Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa
Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian
diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah
di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun
1669 Jawa (1744 M). Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be
Jam'iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada jamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta.
Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni
Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran
Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta
diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672
Jawa = 1747 M.
Analisa Jangka Jayabaya yang kita kenal sekarang
ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut
"Kitab Asrar" Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para
pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.
Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat
negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak jaman purbakala
hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah
kerajaan Islam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedaton". Giri
Kedaton ini nampaknya Merupakan jaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa
yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan
sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun demikian adanya
keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai
jaman Sunan Giri ke-3.
Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya
berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram;
Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun
tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden
Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih
lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah
sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah
kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke
tangan raja yang mendapat julukan sebagai "Ratu Bobodo") ialah Sultan
Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi
setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar,
yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.
Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh
penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu
Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak
kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram
ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini
ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa
di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.
Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan,
bahwa kelak sesudah beliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih
kembali kewibawaannya, justru nanti dijaman jauh sesudah Sultan Agung wafat.
Ini berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai
raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada
tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang
menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628
& 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).
Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk
lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil
pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari
Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157
M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru,
raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang
pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan "JANGKA
JAYABAYA" dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha
dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya
sebelumnya dalam bentuk babad.
Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti
sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat
menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.
Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai
jaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung.
Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah
negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama "REPUBLIK
INDONESIA"!. Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa
mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga
terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.
Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh
diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan
sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini
ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan
Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam
versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur
jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan
lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat
negeri ini.
Semua itu telah berasal dari satu sumber benih,
yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab
Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan
demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran
Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk
puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca
sekarang ini.
Kitab
Musasar JayabayaAsmarandana
Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di
Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.
Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu
Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.
Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki
yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja
negara-nya.
Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu
tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum
bernama, Sultan Maolana.
Lengkapnya bernama Ngali Samsujen. Kedatangannya
disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa
pantas dihormati.
Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang
Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu mengenai Kitab Musarar.
Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian
kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan
sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata.
Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita.
Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggal menitis
3 kali.
Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang
ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah,
Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Dikelak
kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke P. Jawa
membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.
Raja Pandita pamit dan musnah dari tempat duduk.
Kemudian terkisahkan setelah satu bulan Sang Prabu memanggil putranya.
Setelah sang putra datang lalu diajak ke gunung
Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu naik ke gunung.
Di sana ada Ajar bernama Ajar Subrata. Menjemput
Prabu Jayabaya seorang raja yang berincoknito termasuk titisan Batara Wisnu.
Karenanya Sang Prabu sangat waspada, tahu sebelum
kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu menerima sasmita gaib.
Bila Islam seperti Nabi. Prabu Jayabaya
bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan ki Ajar di gunung Padang.
Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.
Tergopoh-gopoh menghormati. Setelah duduk ki Ajar
memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh
warna-warni dan lengkap delapan dengarn endangnya Jadah (ketan) setakir, bawang
putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang,
sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus Kedelapan endang seorang.
Kemudian ki Ajar menghaturkan sembah : “Inilah hidangan kami untuk sang Prabu”.
Sang Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya. Ki Ajar ditikam mati.
Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik
berlarian karena takut. Sedangkan raja putra kecewa melihat perbuatan ayahnya.
Sang putra akan bertanya merasa takut. Kemudian
merekapun pulang. Datang di kedaton Sang Prabu berbicara dengan putranya. Heh
anakku. Kamu tahu ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya
Sultan Maolana Ngali Samsujen tatkala masih muda.
Sinom
Dia itu sudah diwejang (diberitahu) oleh guru
mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji, musnah
raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 3 kali lagi.
Bila sudah menitis tiga kali kemudian ada jaman lagi bukan perbuatan saya.
Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak mungkin berobah lagi. Diberi lambang
Jaman Catur semune segara asat. itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan
Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia diatas bumi.
Menghancurkan keburukan. Setelah 100 tahun musnah keempat kerajaan tersebut.
Kemudian ada jaman lagi yang bukan milik saya, sebab saya sudah terpisah dengan
saudara-saudara ditempat yang rahasia. Di dalam teken sang guru Maolana Ngali.
Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada jaman Anderpati yang
bernama Kala-wisesa.
Lambangnya: Sumilir naga kentir semune liman
pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa keadilan dan tata negara,
Setelah seratus tahun kemudian musnah. Sebab berperang dengan saudara. Hasil bumi diberi
pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dari ki Ajar. Kemudian
berganti jaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya. Demikian nama raja bergelar Sang Rajapati Dewanata.
Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun). Hasil negara
berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari hidangan ki Ajar. Hidangannya Jadah
satu takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian
berganti jaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan
pemimpinnya bergelar Diyati Kalawisaya.
Enam puluh lima tahun kemudian musnah. Yang
bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat berupa
uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar. Negara tersebut diberi lambang: Kekesahan durung
kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti jaman Kalajangga. Beribukota Pajang
dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh anaknya. 36 tahun kemudian
musnah. Negara ini diberi lambang: cangkrama putung
watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan uang. Sebab ki Ajar dahulu
memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian berganti jaman di Mataram.
Kalasakti Prabu Anyakrakusuma. Dicintai pasukannya. Kuat angkatan perangnya dan
kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya Ajar dan wali
serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.
Raja perkasa tetapi berbudi halus. Rakyat kena
pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih dari ki Ajar.
Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat. Kemudian berganti lagi dengan lambang: Kembang
sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat yang penghabisan diberi
lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian musnah sebab melawan
sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang. Berdagang di tanah Jawa kemudian mendapat sejengkal
tanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang, sehingga terpandang di
pulau Jawa. Jaman sudah berganti meskipun masih keturunan Mataram. Negara
bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang. Raja berpasukan campur aduk. Disegani setanah Jawa.
Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli semune satriya brangti.
Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama kemudian
berganti. Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi(Raja yang penuh inisiatif
dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita) kemudian berganti gajah
meta semune tengu lelaki (Raja yang disegani/ditakuti, namun nista.) Enam puluh
tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak
karu-karuan. Waktu itu pajaknya rakyat adalah Uang anggris dan uwang. Sebab
saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak
berkasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak
dapat ditolak.
Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati
berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara
Murka(Raja-raja yang saling balas dendam.). Lambangnya Panji loro semune Pajang
Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan). Nakhoda(Orang
asing)ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan
bijak) tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan
besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer
tetukar(( Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk
menggantikannya) Tidak berkesempatan menghias diri(Raja yang tidak sempat
mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan ), sinjang kemben
tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala
Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut. Pajak
rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang.
Hasilnya berkurang. orang jahat makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail.
Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara. Hukum dan pengadilan negara
tidak berguna. Perintah berganti-ganth. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap
salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang
melupakan Tuhan dan orang tua. Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi
hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada
tanda negara pecah.
Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu.
Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian
raja Kara Murka Kutila musnah.
Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune
Pudak kasungsang(Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi
Mekah(Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu
Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan. Raja
keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa(Orang Islam yang
sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh
Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai
pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar
sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan
raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.
Isi Ramalan
1. Besuk
yen wis ana kreta tanpa jaran --- Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
2. Tanah
Jawa kalungan wesi --- Pulau Jawa berkalung besi.
3. Prahu
mlaku ing dhuwur awang-awang --- Perahu berjalan di angkasa.
4. Kali
ilang kedhunge --- Sungai kehilangan mata air.
5. Pasar
ilang kumandhang --- Pasar kehilangan suara.
6. Iku
tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak --- Itulah pertanda zaman Jayabaya
telah mendekat.
7. Bumi
saya suwe saya mengkeret --- Bumi semakin lama semakin mengerut.
8. Sekilan
bumi dipajeki --- Sejengkal tanah dikenai pajak.
9. Jaran
doyan mangan sambel --- Kuda suka makan sambal.
10. Wong
wadon nganggo pakeyan lanang --- Orang perempuan berpakaian lelaki.
11. Iku
tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman--- Itu pertanda orang akan
mengalami zaman berbolak-balik
12. Akeh
janji ora ditetepi --- Banyak janji tidak ditepati.
13. keh
wong wani nglanggar sumpahe dhewe--- Banyak orang berani melanggar sumpah
sendiri.
14. Manungsa
padha seneng nyalah--- Orang-orang saling lempar kesalahan.
15. Ora
ngendahake hukum Hyang Widhi--- Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
16. Barang
jahat diangkat-angkat--- Yang jahat dijunjung-junjung.
17. Barang
suci dibenci--- Yang suci (justru) dibenci
18. Akeh
manungsa mung ngutamakke dhuwit--- Banyak orang hanya mementingkan uang.
19. Lali
kamanungsan--- Lupa jati kemanusiaan.
20. Lali
kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan.
21. Lali
sanak lali kadang--- Lupa sanak lupa saudara.
22. Akeh
bapa lali anak--- Banyak ayah lupa anak.
23. Akeh
anak wani nglawan ibu--- Banyak anak berani melawan ibu.
24. Nantang
bapa--- Menantang ayah
25. Sedulur
padha cidra--- Saudara dan saudara saling khianat.
26. Kulawarga
padha curiga--- Keluarga saling curiga.
27. Kanca
dadi mungsuh --- Kawan menjadi lawan.
28. Akeh
manungsa lali asale --- Banyak orang lupa asal-usul.
29. Ukuman
Ratu ora adil --- Hukuman Raja tidak adil
30. Akeh
pangkat sing jahat lan ganjil--- Banyak pejabat jahat dan ganjil
31. Akeh
kelakuan sing ganjil --- Banyak ulah-tabiat ganjil
32. Wong
apik-apik padha kapencil --- Orang yang baik justru tersisih.
33. Akeh
wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin --- Banyak orang kerja halal
justru merasa malu.
34. Luwih
utama ngapusi --- Lebih mengutamakan menipu.
35. Wegah
nyambut gawe --- Malas untuk bekerja.
36. Kepingin
urip mewah --- Inginnya hidup mewah
37. Ngumbar
nafsu angkara murka, nggedhekake duraka --- Melepas nafsu angkara murka,
memupuk durhaka.
38. Wong
bener thenger-thenger --- Orang (yang) benar termangu-mangu.
39. Wong
salah bungah --- Orang (yang) salah gembira ria.
40. Wong
apik ditampik-tampik--- Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
41. Wong
jahat munggah pangkat--- Orang (yang) jahat naik pangkat.
42. Wong
agung kasinggung--- Orang (yang) mulia dilecehkan
43. Wong
ala kapuja--- Orang (yang) jahat dipuji-puji.
44. Wong
wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu.
45. Wong
lanang ilang kaprawirane--- Laki-laki hilang perwira/kejantanan
46. Akeh
wong lanang ora duwe bojo--- Banyak laki-laki tak mau beristri.
47. Akeh
wong wadon ora setya marang bojone--- Banyak perempuan ingkar pada suami.
48. Akeh
ibu padha ngedol anake--- Banyak ibu menjual anak.
49. Akeh
wong wadon ngedol awake--- Banyak perempuan menjual diri.
50. Akeh
wong ijol bebojo--- Banyak orang tukar istri/suami.
51. Wong
wadon nunggang jaran--- Perempuan menunggang kuda.
52. Wong
lanang linggih plangki--- Laki-laki naik tandu.
53. Randha
seuang loro--- Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
54. Prawan
seaga lima--- Lima perawan lima picis.
55. Dhudha
pincang laku sembilan uang--- Duda pincang laku sembilan uang.
56. Akeh
wong ngedol ngelmu--- Banyak orang berdagang ilmu.
57. Akeh
wong ngaku-aku--- Banyak orang mengaku diri.
58. Njabane
putih njerone dhadhu--- Di luar putih di dalam jingga.
59. Ngakune
suci, nanging sucine palsu--- Mengaku suci, tapi palsu belaka.
60. Akeh
bujuk akeh lojo--- Banyak tipu banyak muslihat.
61. Akeh
udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.
62. Akeh
prawan tuwa--- Banyak perawan tua.
63. Akeh
randha nglairake anak--- Banyak janda melahirkan bayi.
64. Akeh
jabang bayi lahir nggoleki bapakne--- Banyak anak lahir mencari bapaknya.
65. Agama
akeh sing nantang--- Agama banyak ditentang.
66. Prikamanungsan
saya ilang--- Perikemanusiaan semakin hilang.
67. Omah
suci dibenci--- Rumah suci dijauhi.
68. Omah
ala saya dipuja--- Rumah maksiat makin dipuja.
69. Wong
wadon lacur ing ngendi-endi--- Perempuan lacur dimana-mana.
70. Akeh
laknat--- Banyak kutukan
71. Akeh
pengkianat--- Banyak pengkhianat.
72. Anak
mangan bapak---Anak makan bapak.
73. Sedulur
mangan sedulur---Saudara makan saudara.
74. Kanca
dadi mungsuh---Kawan menjadi lawan.
75. Guru
disatru---Guru dimusuhi.
76. Tangga
padha curiga---Tetangga saling curiga.
77. Kana-kene
saya angkara murka --- Angkara murka semakin menjadi-jadi.
78. Sing
weruh kebubuhan---Barangsiapa tahu terkena beban.
79. Sing
ora weruh ketutuh---Sedang yang tak tahu disalahkan.
80. Besuk
yen ana peperangan---Kelak jika terjadi perang.
81. Teka
saka wetan, kulon, kidul lan lor---Datang dari timur, barat, selatan, dan
utara.
82. Akeh
wong becik saya sengsara--- Banyak orang baik makin sengsara.
83. Wong
jahat saya seneng--- Sedang yang jahat makin bahagia.
84. Wektu
iku akeh dhandhang diunekake kuntul--- Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
85. Wong
salah dianggep bener---Orang salah dipandang benar.
86. Pengkhianat
nikmat---Pengkhianat nikmat.
87. Durjana
saya sempurna--- Durjana semakin sempurna.
88. Wong
jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik pangkat.
89. Wong
lugu kebelenggu--- Orang yang lugu dibelenggu.
90. Wong
mulya dikunjara--- Orang yang mulia dipenjara.
91. Sing
curang garang--- Yang curang berkuasa.
92. Sing
jujur kojur--- Yang jujur sengsara.
93. Pedagang
akeh sing keplarang--- Pedagang banyak yang tenggelam.
94. Wong
main akeh sing ndadi---Penjudi banyak merajalela.
95. Akeh
barang haram---Banyak barang haram.
96. Akeh
anak haram---Banyak anak haram.
97. Wong
wadon nglamar wong lanang---Perempuan melamar laki-laki.
98. Wong
lanang ngasorake drajate dhewe---Laki-laki memperhina derajat sendiri.
99. Akeh
barang-barang mlebu luang---Banyak barang terbuang-buang.
100.
Akeh wong kaliren lan wuda---Banyak orang lapar
dan telanjang.
101.
Wong tuku ngglenik sing dodol---Pembeli membujuk
penjual.
102.
Sing dodol akal okol---Si penjual bermain
siasat.
103.
Wong golek pangan kaya gabah diinteri---Mencari
rizki ibarat gabah ditampi.
104.
Sing kebat kliwat---Yang tangkas lepas.
105.
Sing telah sambat---Yang terlanjur menggerutu.
106.
Sing gedhe kesasar---Yang besar tersasar.
107.
Sing cilik kepleset---Yang kecil terpeleset.
108.
Sing anggak ketunggak---Yang congkak terbentur.
109.
Sing wedi mati---Yang takut mati.
110.
Sing nekat mbrekat---Yang nekat mendapat berkat.
111.
Sing jerih ketindhih---Yang hati kecil tertindih
112.
Sing ngawur makmur---Yang ngawur makmur
113.
Sing ngati-ati ngrintih---Yang berhati-hati
merintih.
114.
Sing ngedan keduman---Yang main gila menerima
bagian.
115.
Sing waras nggagas---Yang sehat pikiran
berpikir.
116.
Wong tani ditaleni---Orang (yang) bertani
diikat.
117.
Wong dora ura-ura---Orang (yang) bohong
berdendang.
118.
Ratu ora netepi janji, musna panguwasane---Raja
ingkar janji, hilang wibawanya.
119.
Bupati dadi rakyat---Pegawai tinggi menjadi
rakyat.
120.
Wong cilik dadi priyayi---Rakyat kecil jadi
priyayi.
121.
Sing mendele dadi gedhe---Yang curang jadi
besar.
122.
Sing jujur kojur---Yang jujur celaka.
123. &nbrp;
Akeh omah ing ndhuwur jaran---Banyak rumah di
punggung kuda.
124.
Wong mangan wong---Orang makan sesamanya.
125.
Anak lali bapak---Anak lupa bapa.
126.
Wong tuwa lali tuwane---Orang tua lupa ketuaan
mereka.
127.
Pedagang adol barang saya laris---Jualan
pedagang semakin laris.
128.
Bandhane saya ludhes---Namun harta mereka makin
habis.
129.
Akeh wong mati kaliren ing sisihe
pangan---Banyak orang mati lapar di samping makanan.
130.
Akeh wong nyekel bandha nanging uripe
sangsara---Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
131.
Sing edan bisa dandan---Yang gila bisa bersolek.
132.
Sing bengkong bisa nggalang gedhong---Si bengkok
membangun mahligai.
133.
Wong waras lan adil uripe nggrantes lan
kepencil---Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
134.
Ana peperangan ing njero---Terjadi perang di
dalam.
135.
Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah
paham---Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
136.
Durjana saya ngambra-ambra---Kejahatan makin
merajalela.
137.
Penjahat saya tambah---Penjahat makin banyak.
138.
Wong apik saya sengsara---Yang baik makin
sengsara.
139.
Akeh wong mati jalaran saka peperangan---Banyak
orang mati karena perang.
140.
Kebingungan lan kobongan---Karena bingung dan
kebakaran.
141.
Wong bener saya thenger-thenger---Si benar makin
tertegun.
142.
Wong salah saya bungah-bungah---Si salah makin
sorak sorai.
143.
Akeh bandha musna ora karuan lungane---Banyak
harta hilang entah ke mana
144.
Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan
sababe---Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
145.
Akeh barang-barang haram, akeh bocah
haram---Banyak barang haram, banyak anak haram.
146.
Bejane sing lali, bejane sing
eling---Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
147.
Nanging sauntung-untunge sing lali---Tapi
betapapun beruntung si lupa.
148.
Isih untung sing waspada---Masih lebih beruntung
si waspada.
149.
Angkara murka saya ndadi---Angkara murka semakin
menjadi.
150.
Kana-kene saya bingung---Di sana-sini makin
bingung.
151.
Pedagang akeh alangane---Pedagang banyak
rintangan.
152.
Akeh buruh nantang juragan---Banyak buruh
melawan majikan.
153.
Juragan dadi umpan---Majikan menjadi umpan.
154.
Sing suwarane seru oleh pengaruh---Yang bersuara
tinggi mendapat pengaruh.
155.
Wong pinter diingar-ingar---Si pandai direcoki.
156.
Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.
157.
Wong ngerti mangan ati---Orang yang mengerti
makan hati.
158.
Bandha dadi memala---Hartabenda menjadi penyakit
159.
Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi pemukau.
160.
Sing sawenang-wenang rumangsa menang --- Yang
sewenang-wenang merasa menang
161.
Sing ngalah rumangsa kabeh salah---Yang mengalah
merasa serba salah.
162.
Ana Bupati saka wong sing asor imane---Ada raja
berasal orang beriman rendah.
163.
Patihe kepala judhi---Maha menterinya benggol
judi.
164.
Wong sing atine suci dibenci---Yang berhati suci
dibenci.
165.
Wong sing jahat lan pinter jilat saya
derajat---Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
166.
Pemerasan saya ndadra---Pemerasan merajalela.
167.
Maling lungguh wetenge mblenduk --- Pencuri
duduk berperut gendut.
168.
Pitik angrem saduwure pikulan---Ayam mengeram di
atas pikulan.
169.
Maling wani nantang sing duwe omah---Pencuri
menantang si empunya rumah.
170.
Begal pada ndhugal---Penyamun semakin kurang
ajar.
171.
Rampok padha keplok-keplok---Perampok semua
bersorak-sorai.
172.
Wong momong mitenah sing diemong---Si pengasuh
memfitnah yang diasuh
173.
Wong jaga nyolong sing dijaga---Si penjaga
mencuri yang dijaga.
174.
Wong njamin njaluk dijamin---Si penjamin minta
dijamin.
175.
Akeh wong mendem donga---Banyak orang mabuk doa.
176.
Kana-kene rebutan unggul---Di mana-mana berebut
menang.
177.
Angkara murka ngombro-ombro---Angkara murka
menjadi-jadi.
178.  :
Agama ditantang---Agama ditantang.
179.
Akeh wong angkara murka---Banyak orang angkara
murka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar