FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

Jumat, 15 Juni 2012

DI BAWAH BAYANG-BAYANG NEGERI KLEPTOKRASI : Pentingnya Kejujuran di Dunia Pendidikan

Episode 1

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “kleptokrasi” berarti penipuan atau pembohongan publik, dimana pemerintahan berpura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali. Istilah ini semakin populer tatkala banyak media elektronik mempublikasikan beberapa kejadian negatif yang terindikasi secara sistemik di dilakukan oleh pembuat kebijakan. Dan anehnya terjadi di setiap lini pemerintahan baik ditingkatan pusat maupun daerah. Secara kasat mata dapat kita lihat kejadian “aneh” disetiap keputusan padahal secara jelas dapat dibuktikan.
 Tulisan ini perlu saya tampilkan agar dibaca oleh publik, bukan berarti “mengorek” kelemahan atau kesalahan-kesalahan kita dan tentunya pemerintah, tetapi memberikan pencerahan dengan membuka mata batin kita semua, bahwa ada beberapa kesalahan yang harus kita perbaiki. Karena pada prinsipnya membangun masyarakat yang beradab harus dilakukan secara bersama-sama.
 
…………………00O00…………………….
 
Dalam beberapa hari terakhir, diberbagai media baik cetak maupun elektronik menampilkan berbagai fenomena menarik dari sisi lain kehidupan masyarakat Indonesia, terutama mengangkat masalah isu pembohongan akademik berupa pembocoran soal maupun pe-nyontekan masal di setiap ujian nasional. terinspirasi oleh skandal nyontek massal di SD Negeri Gadel 2, Surabaya semakin jelas mengindikasikan adanya kecurangan dalam pelaksanaan Unas tahun 2011 ini (meskipun hasil investigasi Diknas menyatakan tidak ada).
Kejadian tersebut sudah menjadi rahasia umum dan berlangsung disetiap pelaksanaan Unas dan terjadi di setiap daerah di negeri ini. ………….
Satu kejadian menarik atas kasus di SDN Gadel 2, dimana pelapor kecurangan menjadi bulan-bulanan masyarakat sekitar bahkan sudah terindikasi teror kepada-nya baik dalam bentuk peng-olok-olokan maupun intimidasi yang selanjutnya semakin terisolirnya pelapor di tengah-tengah masyarakat. Padahal apa yang dilaporkan tersebut adalah bentuk kejujuran atas kasus Nyontek masal sekolah tersebut.  Menurut Romi Faslah, fenomena bertindak tidak berkata jujur di lingkungan instasi pendidikan baik yang negeri maupun yang swasta sering disaksikan dan didengar. Bahkan praktek-praktek ketidak jujuran yang mengakibatkan kerugian negara baik berupa materi maupun non materi tumbuh subur di instasi pemerintahan. Fenomena yang luar biasa bukan???? Hal ini diperparah oleh hasil investigasi tim Depdiknas dan pernyataan Mendiknas sendiri yang menyimpulkan bahwa tidak ada penyontekan masal di SDN tersebut, karena pola jawaban berbeda. Pertanyaan besarnya adalah siapa yang salah??? Apakah pernyataan Al (pelajar yang melaporkan kepada ibunya sekaligus pelaku) ataukah hasil investigasi Mendiknas? Namun yang pasti, ada salah satu yang sudah berbohong. Orang awam-pun bisa menilai siapa yang bohong. Benar adanya kalau negeri ini termasuk negeri kleptokrasi.
……………………………
Secara pribadi, saya dan kita semua yakin betul bahwa Atas sikap dan perilaku yang tidak jujur tersebut mengakibatkan perubahan disemua sistem yang semestinya idial menjadi tidak idial, yang baik menjadi tidak baik dan lain sebagainya. Disamping itu, perilaku tidak jujur ini apabila tidak segera dihentikan maka akan berdampak sistemik yang akhirnya akan menjadi kebiasaan. Ironinya, kesalahan tersebut sudah mengakar ditengah masyarakat sehingga yang jelas-jelas salah menjadi benar atas nama pembenaran.
Hal ini tercermin karena Kebiasaan kita adalah membiasakan berbuat salah, dan diulang-ulang terus kesalahan itu sehingga akan menjadi pembenaran. Bukankah tuhan mengingatkan kita semua, bahwa yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar…???? Oleh sebab itu, melalui tulisan ini, saya mengajak kepada semua pembaca, jangan atas nama apapun kesalahan menjadi pembenaran yang ending-nya berdampak secara sistemik…tahukah anda? Kalau kenyataan yang demikian, toh, rakyatlah yang akan jadi korbannya………………

Tidak ada komentar: